December 16, 2014

TEKNIK DAN STRATEGI PENANGGULANGAN DAMPAK PSIKOSOSIAL PADA BENCANA

Oleh: Prof. Dr. Budi Anna Keliat, MAppSc (Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia)

BENCANA


Bencana adalah kejadian yang menyebabkan kerusakan fungsi masyarakat yang meliputi hilangnya nyawa manusia, kerusakan sarana dan prasarana, terganggunya perekonomian masyarakat, gangguan ekologi kehidupan, dan segala dampaknya yang menyebabkan masyarakat yang terkena tidak sanggup mengatasinya sendiri.

Bencana dapat dibagi tiga yaitu bencana alam, bencana non alam, bencana sosial. Bencana alam berupa peristiwa alam yaitu gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, kekeringan, angin topan, tanah longsor, dan berbagai kejadian alam yang lain. Bencana non alam adalah peristiwa non alam seperti kegagalan teknologi, wabah penyakit, dan kejadian non alam lain. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti konflik sosial dan terror.

Khusus bencana alam merupakan ancaman bagi masyarakat Indonesia dikarenakan geografis kepulauan dan diliputi oleh gunung berapi. Seperti kejadian yang baru saja terjadi di kepulauan Mentawai terjadi tsunami, di Jogya terjadi letusan gunung Merapi, di Wasior terjadi banjir bandang yang memakan korban jiwa dan kerusakan sarana kehidupan.

Masalah kesehatan merupakan masalah besar bagi masyarakat yang kena dampak bencana, khususnya masalah kesehatan jiwa meningkat sebagai akibat dari bencana (WHO, 2005). 



MASALAH KESEHATAN JIWA PADA BENCANA

Stresor yang terjadi pada bencana meliputi stresor fisik, lingkungan dan pikiran. Stresor fisik adalah cedera fisik yang diakibatkan oleh bencana dari tingkat ringan sampai berat, dan dapat pula mengakibatkan korban meninggal. Masyarakat yang selamat dan tinggal di pengungsian juga rentan mengalami gangguan kesehatan fisik. Stresor lingkungan adalah rusak dan hilangnya harta benda (rumah, sawah, ladang dll). Stresor pikiran adalah persepsi terhadap kejadian yang dapat realistis dapat pula tidak realistik. Kehilangan orang yang dicintai merupakan stressor yang sangat berat, terlebih kejadian ini tidak terduga sebelumnya.

Respon individu terkait bencana dan stressor yang menyertainya bervariasi sesuai dengan kemampuan dalam melakukan adaptasi dengan kondisi kehidupan yang berubah. Ansietas dan depressi merupakan respon yang paling sering ditemukan sejalan dengan proses kehilangan yang terjadi. Kondisi ini dapat cepat pulih, namun pada individu tertentu dapat berakibat lebih lanjut. Untuk itu diperlukan penanganan segera agar ketahanan mental dan pemulihan kondisi kejiwaan dapat terjadi sehingga masyarakat dapat membangun kembali kehidupan dengan semangat baru yang penuh harapan. Tanda dan gejala ansietas dapat dilihat dari konsentrasi yang kurang, sakit kepala, tidak nafsu makan, tidur yang terganggu. Demikian pula tanda dan gejala depressi seperti sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat, merasa lelah walau tidak bekerja, ada pikiran untuk mengahiri kehidupan

Post traumatic stress disorder(PTSD) merupakan salah satu masalah kejiwaan yang dapat terjadi pada korban bencana. PTSD adalah gangguan ansietas yang terjadi akibat peristiwa traumatic/bencana yang mengancam keselamatan dan membuat individu merasa tidak berdaya. PTSD ada tiga macam yaitu PTSD akut terjadi 1-3 bulan setelah bencana, PTSD kronik terjadi setelah tiga bulan, dan PTSD dengan onset yang memanjang (with delayed onset). Tanda dan gejala PTSD dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

a. Merasakan kembali peristiwa traumatic (reexperiencing symptom), merasakan kejadian terjadi kembali, muncul dalam bentuk bayangan, mimpi buruk, bertindak seakan peristiwa terulang kembali, merasa sangat menderita jika mengingatnya dan disertai detakan jantung yang hebat dan berkeringat.

b. Menghindar (avoidance symptom), yaitu menghindar terhadap hal yang mengingatkan terhadap peristiwa trauma. Hal ini dapat distimulus dari pikiran sendiri atau lingkungan yang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan. Tanda dan gejala yang muncul adalah usaha keras menghindari pikiran, perasaan atau perbincangan tentang peristiwa traumatis, menghindari orang atau tempat yang mengingatkan peristiwa traumatis, sulit mengingat kejadian traumatis, kehilangan minat melakukan hal-hal positif, merasa jauh dari orang lain, sulit merasakan kesenangan, tidak punya harapan dan merasa kehidupan terputus.

c. Waspada (hyperarousal symptom), mengalami peningkatan mekanisme fisiologik tubuh pada saat tubuh istirahat. Tanda dan gejala yang muncul seperti sulit tidur, tidur tetapi gelisah, mudah dan lekas marah dan meledak-ledak, sulit berkonsentrasi, selalu awas seakan bahaya mengincar, gelisah, tidak tenang dan mudah terpicu/waspada.

Faktor risiko dan resiliensi pada tiap individu mempengaruhi terjadinya masalah kejiwaan. Faktor risiko adalah factor yang sudah ada sebelum terjadi bencana seperti pengalaman traumatis yang lalu, riwayat masalah kesehatan jiwa, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan harta benda, dan beberapa factor penyerta lain seperti kemiskinan, pendidikan rendah. Faktor resiliensi merupakan factor yang memperkuat kemampuan individu mengatasi masalah yang dihadapi. Stuart (2009) mengidentifikasi tiga factor yaitu persepsi yang realistic, kemampuan menyelesaikan masalah, dan dukungan sosial. Keinginan mencari dan menggunakan sistem pendukung sosial yang tersedia, atau ketersediaan sistem pendukung sosial, reaksi yang realistis dalam menghadapi bahaya yang terjadi, dan kemampuan koping dalam menghadapi masalah secara efektif merupakan faktor resiliensi yang dapat mencegah timbulnya PTSD.


STRATEGI PENANGGULANGAN DAMPAK PSIKOSOSIAL PADA BENCANA

Masalah psikososial pada korban bencana dapat dikelompokkan sesuai dengan dampak bencana yang dialami yaitu:

1. Masyarakat yang selamat disertai orang yang dicintai juga selamat dan harta bendapun selamat. 

2. Masyarakat yang selamat tetapi harta benda rusak dan hancur; atau masyarakat yang selamat tetapi kehilangan orang yang dicintai. 

3. Masyarakat yang selamat disertai dengan kehilangan orang yang dicintai dan kehilangan harta benda

Masyarakat yang kena dampak bencana umumnya tinggal di pengungsian, namun ada juga yang mengungsi ke rumah keluarga (yang mempunyai sistem pendukung sosial).
Untuk itu strategi penanggulangan atau pendekatan psikososial dibagi sebagai berikut: kegiatan di tempat pengungsian, kegiatan di tempat barak pengganti rumah, kegiatan di rumah atau kembali ke desa.

1. Kegiatan di Tempat Pengungsian
Kegiatan di tempat pengungsian dibagi dalam tiga yaitu:
  • Kelompok besar yang diikuti oleh semua pengungsi yang menempati tempat pengungsian
  • Kelompok kecil yaitu semua pengungsi yang tinggal di satu tempat pengungsian dibagi dalam kelompok kecil
  • Keluarga dan atau individu dengan kebutuhan khusus
Selain itu kegiatan juga dapat dibagi sesuai dengan usia para pengungsi yaitu kelompok anak, remaja, dewasa dan lansia.


2. Kegiatan di barak pengungsian pengganti rumah tempat tinggal
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pertama dapat didelegasikan kepada tokoh masyarakat (community leader) yang berada pada kelompok besar dan kelompok kecil, yang menyerupai ketua RW atau RT.

Kegiatan psikososial yang dilakukan menyerupai pengembangan DESA SIAGA SEHAT JIWA, dimana tokoh masyarakat berperan sebagai kader kesehatan jiwa (KKJ). KKJ dilatih mendeteksi kelompok sehat sesuai dengan usia (bayi, kanak-kanak, anak pra sekolah, anak sekolah, remaja, dewasa dan lansia). KKJ juga mendeteksi kelompok risiko yaitu yang menderita penyakit kronis, cacat fisik akibat bencana, kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, kehilangan pekerjaan, putus sekolah dan jenis kehilangan yang lain. KKJ juga mendata apakah ada gangguan jiwa.

Berdasarkan pengelompokan tersebut maka perawat akan menyiapkan program sbb:

a. Kelompok sehat: stimulasi perkembangan

b. Kelompok risiko: penjelasan perawatan penyakit atau penyelesaian masalah, memberikan perawatan psikososial sebagai akibat faktor risiko

c. Kelompok gangguan: memberikan perawatan sesuai dengan kondisi kesehatan jiwanya dengan prinsip sedapatnya dirawat di masyarakat dan jika perlu lakukan rujukan ke puskesmas atau rumah sakit. 


3. Kegiatan di rumah atau kembali ke desa
Kegiatan di barak pengungsian dilanjutkan ke desa yaitu:

a. Desa Siaga Sehat Jiwa disertai kader kesehatan jiwa yang dibimbing oleh perawat kesehatan jiwa dari puskesmas

b. Perawat dan dokter puskesmas dilatih tentang pelayanan kesehatan jiwa masyarakat.

Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa setelah kembali ke desa perlu dilanjutkan untuk terus melakukan pencegahan masalah kesehatan jiwa yang dapat berlanjut akibat bencana yang dialami



TEKNIK PENANGGULANGAN MASALAH PSIKOSOSIAL PADA BENCANA

Teknik penanggulangan dan pencegahan masalah psikososial pada bencana, pelaksanaannya disesuaikan dengan strategi yang telah ditetapkan. Pada kesempatan ini akan dijelaskan teknik pada tempat pengungsian saja. 

1. Teknik pada kelompok besar
Kegiatan dilakukan pada seluruh penghuni tempat pengungsian yang mungkin antara 100 sampai ribuan orang. Jumlah anggota tim relawan disesuaikan dengan jumlah pengungsi dengan rasio satu orang banding 50-100 orang pengungsi, dan tetapkan satu orang sebagai leader.

Kegiatan yang dilakukan adalah 

a. Asesmen umum tentang masalah fisik, lingkungan dan pikiran yang membuat pikiran menjadi susah. 

b. Latihan nafas dalam dengan menghela nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut (kedua bibir menyatu) dan memperhatikan mengembang dan mengempisnya perut

c. Latihan relaksasi progresif dengan memperhatikan pengencangan dan pengenduran otot sambil nafas dalam: mata, mulut, tengkuk, bahu, tangan, punggung, perut, bokong/pervis, kaki dan telapak kaki

d. Mengingatkan kebersihan diri yaitu cuci tangan sebelum makan dan cuci tangan sesudah buang air. Juga makan, minum dan istirahat yang seimbang

e. Latihan perfokus pada lima jari sambil mengingat kondisi tubuh yang segar; orang-orang yang memperhatikan dan peduli; pujian/ penghargaan/ keberhasilan yang pernah dirasakan; tempat indah yang pernah dikunjungi

f. Latihan menghentikan pikiran yang susah dengan mengatakan stop setiap kali pikiran susah muncul dan pikirkan hal positif yang masih dimiliki

g. Latihan membangun interaksi dalam keluarga (suami, istri, anak), teman sekampung yang sama-sama tinggal dipengungsian, saudara lain yang tinggal di satu tempat pengungsian.

h. Melakukan ibadah dan kegiatan sosial bersama-sama

i. Peran serta kegiatan di tempat pengungsian: di dapur umum, membagikan makanan, menjaga kebersihan lingkungan




2. Teknik pada kelompok kecil
Setelah selesai kegiatan kelompok besar maka dilanjutkan dengan kegiatan kelompok kecil yang dibagi sesuai dengan kelompok usia.

a. Kelompok dewasa
Kegiatan yang dilakukan pada kelompok dewasa adalah bercakap-cakap tentang perasaan, harapan, keinginan, hal positif yang masih dapat disyukuri. Kelompok menjadi dukungan sosial bagi para anggota kelompok, dan membangun harapan masa depan yang realistis.

b. Kelompok remaja
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah olah raga, musik, tari, bernyanyi, menulis, aktivitas sosial. Dapat pula dilakukan latihan membangun percaya diri dan harga diri.

c. Kelompok anak
Kegiatan yang dapat dilakukan dengan anak-anak adalah bermain, menggambar, bernyanyi, menari, musik, berceritra dan olah raga. Dapat pula memutar film kartun atau film anak-anak.

d. Kelompok lansia
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercakap-cakap tentang perasaan, berikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan di pengungsian, berbagi pengalaman masa lalu yang sukses, lakukan pendampingan untuk masalah dan kebutuhan lansia. Lansia merupakan kelompok yang butuh perhatian dan rentan 


3. Teknik pada keluarga dan individu
Pada saat kegiatan kelompok kecil dapat diidentifikasi anggota kelompok yang mempunyai kebutuhan khusus misalnya yang kehilangan anggota keluarga, rumah, harta benda, cedera, gangguan jiwa. Lakukan perawatan sesuai dengan masalah yang dialami secara profesional yaitu oleh perawat jiwa atau dokter jiwa. Diagnosa keperawatan yang dapat diidentifikasi adalah Ansietas, PTSD, Harga diri rendah (situasional/kronik), Keputusasaan, Ketidakberdayaan, Gangguan citra tubuh, Risiko perilaku kekerasan, Gangguan sensori persepsi: halusinasi, Isolasi sosial, Risiko bunuh diri, Defisit perawatan diri. Pertimbangkan rujukan yang diperlukan ke puskesmas, dan rumah sakit.


STRATEGI PELAKSANAAN TEKNIK KOMUNIKASI (SP) 
PADA KELOMPOK BESAR


1. PRA INTERAKSI
Pada saat mengunjungi tempat pengungsian lakukan koordinasi dengan KORLAP (koordinator lapangan) pada tempat pengungsian dan menjelaskan tujuan kegiatan yang akan dilakukan. Tujuannya adalah membantu pengungsi mengatasi pikirannya yang susah agar tetap bersemangat menghadapi kehidupan. Upayakan melakukan kegiatan diantara waktu makan misalnya antara jam 09.00 – 12.00 dan 15.00 – 17.00.

Lakukan juga koordinasi dengan tim kesehatan yang ada di tempat pengungsian tentang kegiatan yang akan dilakukan (sda). Selain itu tanyakan keluhan sakit para pengungsi untuk mendapat gambaran kondisi kesehatan para pengungsi. Penting pula menanyakan apakah ada pasien gangguan jiwa, jika ada lakukan pendekatan individu atau keluarga dengan kebutuhan khusus.


2. ORIENTASI
Salam: beri salam, perkenalkan diri leader dan anggota tim yang menyebar diantara pengungsi. Sampaikan pula tujuan yaitu: menolong mengatasi pikiran yang susah akibat bencana dan mengungsi

Evaluasi: tanyakan sudah berapa lama di pengungsian, apakah sering sakit kepala, apakah sudah minta obat ke petugas kesehatan, apakah ada perbaikan. Tanyakan pula apakah badan pegal-pegal, katakan hal itu karena biasa bekerja ke ladang dsb tetapi di tempat pengungsian tidak ada kegiatan. Tanyakan pula tentang makan, apakah selera makan biasa atau tidak selera makan.Tanyakan pula tentang tidur, apakah susah tidur, tidur terganggu, sering terbangun dan mimpi buruk. 

Validasi: katakan bahwa pikiran susah dapat disebabkan tiga hal yaitu (1) kondisi kesehatan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, sesak nafas dsb, (2) lingkungan yang berubah yaitu biasa tinggal di rumah sendiri sekarang beramai-ramai, biasa ke ladang sekarang diam saja dsb, (3) pikiran yang tertuju kepada kondisi yang terjadi.

Kontrak: tanyakan apakah setuju melakukan kegiatan agar pikiran yang susah kita atasi dengan kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuat badan tetap segar, mengatur pikiran agar tidak susah dan menata lingkungan agar nyaman.

Waktu: katakan waktunya kira-kira satu jam

Posisi: ajak untuk mengatur duduk, boleh kakinya diluruskan atau duduk bersimpuh


3. KERJA
Mulai dengan slogan yaitu BOLEH TINGGAL DI PENGUNGSIAN TETAPI TETAP SEHAT dengan memperagakan semangat. Kita mulai latihan mengembalikan dan menjaga kesehatan fisik, kemudian mengelola pikiran, dan mengelola lingkungan

3.1 KESEHATAN BADAN
3.1.1 Latihan nafas dalam 
Jelaskan dan ber contoh: posisi tegak, tarik nafas dari hidung, tahan lalu tiup dari mulut pelan-pelan. Dilakukan empat kali

Peragakan bersama yang dibantu oleh anggota tim yang menyebar diantara pengungsi: mari kita lakukan bersama – sama, bisa kita mulai: tarik nafas dari hidung, oke tahan, tiup/lepaskan dari mulut pelan-pelan sampai habis. Ulangi sampai empat kali

Evaluasi: tanyakan perasaan pengungsi: bagaimana, ada perasaan lega di dada. Beri pujian. Mari kita lanjutkan kegiatan berikut

3.1.2 Relaksasi progresif
Jelaskan: latihan seluruh badan agar peredaran darah lancar dan tidak ada kaku dan pegal, dimulai dari mata, mulut, tengkuk, bahu, tangan, punggung, perut, bokong, dan kaki dengan cara mengencangkan dan mengendurkan

1. Latihan mata:
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam sambil mengencangkan/mengerutkan mata dan dahi sekencang-kencangnya, lalu tahan dan kendurkan pelan-pelan sambil mengeluarkan nafas, dilakukan empat kali

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam sambil kencangkan mata dan dahi, tahan dan lepaskan pelan-pelan sampai lemas dan kendur. Bagus, kita lakukan lagi, sampai empat kali

Evaluasi: tanyakan perasaan pada mata, agak enak karena juga kena debu dan tidur terganggu

2. Latihan mulut:
Ada tiga latihan untuk mulut yaitu pipi digembungkan, dimonyongkan/mencucu, dan lidah kelangit-langit.

Pipi digembung
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam, gembungkan pipi, tahan, tiup pelan-pelan
Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam, gembungkan mulut, tahan, tiup pelan-pelan. Ulangi sampai empat kali

Evaluasi: tanyakan perasaan pada pipi, katakan nanti tambah muda pada saat kembali ke kampung. Minta mengangkat tangan semua dan tepuk tangan


Mulut dimonyongkan/mencucu
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam tahan, sambil mulut dimonyongkan, keluarkan nafas pelan-pelan
Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam, tahan, mulut dimonyongkan/mencucu, keluarkan nafas pelan-pelan. Ayo kita lakukan sampai empat kali
Evaluasi: tanyakan perasaannya, agak lemas, dan relaks.


Lidah ditarik kebelakang
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam sambil menaruh lidah di langit-langit dan tarik kebelakang sekuatnya, tahan lalu lepaskan pelan-pelan sambil mengeluarkan nafas
Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam sambil tarik lidah ke belakang, tahan, keluarkan nafas pelan – pelan, dan lidah dilepaskan. Ayo kita lakukan lagi sampai empat kali
Evaluasi: tanyakan perasaannya, katakan sudah selesai latihan untuk muka. Minta angkat tangan semua dan tepuk tangan


3. Latihan tengkuk
Jelaskan dan beri contoh: dagu ditempelkan ke dada, lalu tarik nafas dalam sampai menengadah sejauh-jauhnya ke belakang, tahan sebentar lalu kelurakan nafas pelan-pelan sambil mengembalikan posisi dagu menempel ke dada. Lakukan sampai empat kali

Peragakan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tempelkan dagu di dada, tarik nafas dalam sambil pelan-pelan menengadah sejauh-jauhnya kebelakang, tahan sebentar, keluarkan nafas sambil mengembalikan posisi dagu menempel ke dada. Ayo kita lakukan empat kali

Evaluasi: tanyakan perasaannya, apakah terasa tengkuk relaks

4. Latihan bahu
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam sambil mengangkat bahu sampai menyentuh telinga, tahan sebentar lalu keluarkan nafas sambil menurunkan bahu ke posisi semula. Lakukan sampai empat kali.

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam sambil menaikkan bahu sampai menyentuh telinga, tahan sebentar, lalu keluarkan nafas sambil menurunkan bahu sampai posisi semula. Ayo kita lakukan sampai empat kali

Evaluasi: bagaimana perasaannya, terasa enakan bahunya. Mari angkat tangan semua

5. Latihan kedua tangan
Jelaskan dan beri contoh: kedua tangan letakkan diletakkan diatas pangkuan, tarik nafas dalam sambil mengepalkan telapak tangan dan mengencangkan kedua tangan, tahan sebentar, lalu keluarkan nafas sambil mengendurkan tangan dan membuka telapak tangan dan meletakkannya diatas pangkuan.

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: letakkan kedua tangan diatas pangkuan, tarik nafas dalam sambil mengepalkan telapak tangan dan mengencangkan kedua tangan, tahan sebentar, hembuskan nafas sambil mengendurkan tangan dan membuka kepalan dan meletakkannya diatas pangkuan. Ayo kita lakukan empat kali.

Evaluasi: bagaimana perasaannya, terasa relaks tangannya? Mari angkat kedua tangan semua.

6. Latihan meregangkan otot punggung
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam sambil membusungkan dada dan melengkungkan punggung kebelakang, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas pelan-pelan sambil mengendurkan punggung.

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam sambil membusungkan dada dan melengkungkan punggung kebelakang, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas pelan-pelan sambil mengendurkan punggung. Ayo kita lakukan empat kali.

Evaluasi: bagaimana perasaannya? Terasa enak punggungnya?


7. Latihan meregangkan otot perut
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam sambil mengempiskan perut sekempis-kempisnya, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas sambil mengendurkan perut kembali

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam sambil mengempiskan perut sekempis-kempisnya, tahan sebentar kemudian keluarkan nafas sambil mengendurkan perut kembali. Ayo kita lakukan sebanyak empat kali

Evaluasi: bagaimana perasaannya? Bai angkat tangan semua


8. Latihan otot kaki
Jelaskan dan beri contoh: luruskan kedua kaki sambil duduk, tarik nafas dalam sambil menarik telapak kaki kearah perut dan kedua tangan berusaha menggapai ibu jari kaki, tahan sebentar, kemudian keluarkan nafas pelan-pelan sambil mengendurkan kaki dan telapak kaki.

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: luruskan kedua kaki sambil duduk, tarik nafas dalam sambil menarik telapak kaki kearah perut dan kedua tangan berusaha menggapai ibu jari kaki, tahan sebentar, kemudian keluarkan nafas pelan-pelan sambil mengendurkan kaki dan telapak kaki. Ayo kita lakukan empat kali.

Evaluasi: bagaimana perasaannya? Angkat tangan semua, dan tepuk tangan

Seluruh latihan otot badan telah selesai, bagimana perasaannya? Jangan lupa di muka ada latihan mata, latihan mulut tiga macam, tengkuk, bahu, kedua tangan, punggung, perut dan kedua kaki. diharapkan dapat dilakukan tiga kali sehari secara bersama-sama atau sendiri-sendiri


Kebersihan diri


Jaga kebersihan diri dengan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, cuci tangan sebelum dan sesudah buang air, makan yang teratur, minum yang banyak dan air yang dimasak atau air botol. Jaga kebersihan badan dan pakaian, jika kondisi banyak debu jangan lupa pakai masker.




LATIHAN PIKIRAN

Latihan pikiran berguna untuk memfokuskan kepada hal yang positif agar bersemangat membangun kembali kehidupan. Latihan pikiran terdiri dari dua macam yaitu berfokus pada lima jari dan penghentian pikiran.

3.2.1 Latihan perfokus pada lima jari
Jelaskan dan beri contoh: tarik nafas dalam, pejamkan mata, kosongkan pikiran, angkat tangan kanan, pertemukan ibu jari dengan telunjuk kemudian bayangkan saat tubuh sangat segar pada masa muda, atau pulang dari ladang kemudian mandi dan terasa segar sekali; pertemukan ibu jari dengan jari tengah kemudian bayang semua orang yang memperhatikan saudara dan peduli pada saudara, mereka sangat baik sekali; pertemukan ibu jari dan jari manis kemudian bayangkan pujian yang pernah saudara dapatkan karena perilaku saudara yang baik atau keberhasilan ladang saudara, bayangkan betapa senangnya saudara saat itu; pertemukan ibu jari dengan kelingking kemudian bayangkan tempat-tempat indah yang pernah saudara kunjungi, ladang saudara yang menguning siap dipanen. Tarik nafas dalam dan buka mata. 

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam, pejamkan mata, kosongkan pikiran, angkat tangan kanan, pertemukan ibu jari dengan telunjuk kemudian bayangkan saat tubuh sangat segar pada masa muda, atau pulang dari ladang kemudian mandi dan terasa segar sekali; pertemukan ibu jari dengan jari tengah kemudian bayang semua orang yang memperhatikan saudara dan peduli pada saudara, mereka sangat baik sekali; pertemukan ibu jari dan jari manis kemudian bayangkan pujian yang pernah saudara dapatkan karena perilaku saudara yang baik atau keberhasilan ladang saudara, bayangkan betapa senangnya saudara saat itu; pertemukan ibu jari dengan kelingking kemudian bayangkan tempat-tempat indah yang pernah saudara kunjungi, ladang saudara yang menguning siap dipanen. Tarik nafas dalam dan buka mata. Ayo kita lakukan sekali lagi.

Evaluasi: Bagaimana perasaan saudara? Apa yang muncul pada pikiran saudara? Adakah muncul pikiran positif?


3.2.2 Latihan menghentikan pikiran yang susah
Jelaskan dan beri contoh: Jika pikiran susah masih muncul juga, maka dapat dilakukan penghentian pikiran dengan mengatakan STOP. Caranya dimulai dengan tarik nafas dalam, tutup mata dan kosongkan pikiran, kemudian ingat pikiran saudara yang paling susah dan pada hitungan sepuluh atau lima katakan STOP pada pikiran tersebut. Kemudian sehari-hari dapat saudara STOP setiap muncul pikiran yang susah diganti dengan pikiran positif tentang kehidupan saudara. 

Peragaan bersama: mari kita lakukan bersama, bisa kita mulai: tarik nafas dalam, keluarkan, bernafas biasa, tutup mata, kosongkan pikiran, jangan memikirkan apapun fokus saja pada pernafasan saudara, kemudian ingat pikiran saudara yang paling susah dan pada hitungan kelima saya akan katakan STOP, saya mulai hitung satu ...terus pikirkan pikiran yang saudara susahkan, dua...tiga....empat....lima...STOP, tarik nafas dalam dan buka mata. Ayo kita ulangi sekali lagi, dan saudara bisa hitung sendiri 

Evaluasi: bagaimana perasaannya? Apakah hilang pikirannya yang susah? Silahkan lakukan setiap muncul pikiran susah katakan STOP


LATIHAN PERAN SERTA SOSIAL

3.3.1 Bercakap-cakap
Sampaikan pada pengungsi bahwa kesempatan sepanjang hari berkumpul dengan keluarga, sanak keluarga dan teman sekampung. Bercakap-cakaplah dengan suami/istri/anak/sanak keluarga/teman secara individu maupun berkelompok menbicarakan masa depan dan lain-lain

3.3.2 Ibadah bersama
Upayakan menjalankan ibadah bersama-sama berkelompok dengan agama yang sama memohon Tuhan Yang Maha Esa pencipta segalanya memberi pertolongan. 

3.3.3 Peran serta kegiatan sosial
Semua pengungsi remaja dan dewasa dapat dilibatkan secara bergiliran atau berkelompok untuk mengelola tempat pengungsian dengan baik, seperti dapur umum, kebutuhan pengungsi, pembagian makanan dan kebutuhan lain, kebersihan, kamar mandi (MCK) 



STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN

1. Ansietas
Temani dan ajak bicara, latih relaksasi secara mandiri: tarik nafas dalam, relaksasi progresif, fokus pada lima jari (berpikir positif), stop berpikir, libatkan dalam kegiatan, perhatikan kecukupan makan, minum dan istirahat


2. PTSD
Bangun hubungan saling percaya, empati pada individu, hargai jika individu siap bercerita tentang pengalaman traumatisnya (jangan paksa berceritra), dengarkan juga jika individu bercerita tentang kondisinya sebelum peristiwa, bantu untuk melakukan kegiatan sharing dengan orang yang dipercaya, melakukan kegiatan fisik (nafas dalam, senam, relaksasi), melakukan kegiatan bersama, membentuk kelompok saling mendukung, melakukan kegiatan ibadah dan berserah kepada Tuhan. Bantu mengidentifikasi sumber pendukung dari keluarga dan pemerintah yang dapat memenuhu kebutuhan keluarga, dan melakukan aktifitas baru yang mungkin dilakuakan 

3. Keputusasaan
Temani dan hargai individu, bersama-sama melihat aspek positif yang masih dimiliki, berusaha menghentikan dan melawan keputusasaan (pikiran negatif), beri semangat hidup dengan memberikan pujian terhadap hal-hal positif yang dilakukan. Libatkan keluarga/teman memberi dukungan dan semangat,




Referensi

DEPKES RI (2005). Panduan bagi relawan untuk pemulihan kondisi korban selamat dan masalah kesehatan mental yang biasa muncul pasca bencana. Jakarta

DEPKES RI (2005). Panduan bagi petugas dan relawan kesehatan mental. Jakarta

DEPKES RI (2005). Panduan untuk melakukan penyuluhan, bimbingan kelompok dan konseling. Jakarta

Erwina, I., Keliat, B.A, Nasution, Y., Helena, N.C.D. (2010). Pengaruh cognitive behavior therapy terhadap post traumatic stress disorder pada penduduk pasca gempa di Padang Sumatera Barat. Jakarta: Tesis

Keliat, B.A, Helena, N.C.D., Nurhaeni, H., Akemat. (2010). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: Basic course. Jakarta: EGC (proses cetak) 

Sciraldi, G.R. (2009). The post traumatic stress disorder: Sourcebook. (second edition). New York: Mc Graw Hill

Stuart, G.W. (2009). Principles and practice: Psychiatric nursing. (9th edition). St. Louis: Mosby Elsevier


1 comment:

leni as said...

Maap boleh tau cara u. Kontak dgn prof. Budi keliat