December 6, 2013

KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI INDONESIA (Pidato Pengukuhan Prof. Budi Anna Keliat)

 KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN
KESEHATAN JIWA DI INDONESIA
(The contribution of mental health nursing to improve
 mental health service in Indonesia)








Budi Anna Keliat








Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap
Dalam Bidang Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Depok, 27 Maret 2013











“Life that has a Meaning for Others”




















KATA PENGANTAR

Kontribusi keperawatan kesehatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia dibagi di tiga tatanan pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit jiwa, rumah sakit umum dan masyarakat. Pelayanan keperawatan jiwa pada ketiga tatanan ini bersifat kontinum, holistik, komprehensif dan paripurna.  Dalam rangka berkontribudi dalam ketiga tatanan pelayanan kesehatan jiwa maka dikembangkan pelayanan keperawatan jiwa yang professional yaitu Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa di rumah sakit jiwa, Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat (Community Mental Helath Nursing) di masyarakat dan Keperawatan Konsultasi Kesehatan Jiwa (Consultation Liaison Mental Health Nursing) di rumah sakit umum bagi klien gangguan fisik.

Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa (MPKP Jiwa) telah dikembangkan sejak tahun 2000 di rumah sakit Marzoeki Mahdi dan telah tersebar hampir di seluruh rumah sakit jiwa dan beberapa unit psikiatri rumah sakit umum. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui manfaat MPKP pada pelayanan dan asuhan keperawatan kesehatan jiwa di rumah sakit jiwa.

Community Mental Health Nursing (CMHN) dikembangan untuk memberikan pelayanan keperawatan jiwa bagi masyarakat yang mengalami gangguan jiwa, risiko gangguan jiwa dan yang sehat jiwa. Secara lengkap dilaksanakan dengan lebih baik setelah terjadi gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004, dan telah dilaksanakan hampir di seluruh puskesmas di Aceh. Replikasi telah dilakukan di hampir 20 propinsi lain di tanah air. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui manfaatnya bagi kesehatan jiwa masyarakat sehingga pelayanan keperawatan berbasis bukti dapat dilaksanakan dengan target yang gangguan dapat mandiri dan produktif, yang risiko tercegah dari gangguan jiwa dan yang sehat mendapatkan upaya promosi kesehatan jiwa.

Consultation liaison mental health nursing (CLMHN) dikembangkan untuk memberi pelayanan psikososial bagi klien gangguan fisik yang dirawat di rumah sakit jiwa. Pemberian pelayanan berdasarkan kebutuhan holistik, kontinum dan keselamatan dan keamanan yang terjaga dengan baik. Pelatihan bagi seluruh karyawan agar caring dan prima dengan menggunakan komunikasi terapeutik dan khusus untuk perawat ditambahkan dengan asukhan keperawatan psikososial pada diagnosis keperawatan yang berkaitan dengan ansietas dan depresi. Beberapa rumah sakit umum telah melaksanakannya dengan bervariasi, dan telah dilakukan beberapa penelitian untuk mengetahui manfaatnya

Akhirnya, penulis berharap kontribusi keperawatan jiwa diberbagai tatanan pelayanan kesehatan dapat memberi makna positif bagi kesehatan masyarakat dalam menuju Indonesia Sehat Jiwa.






















DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
1.      PENDAHULUAN
2.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA
3.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI MASYARAKAT
4.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI RUMAH SAKIT UMUM
5.      ROAD MAP DAN PEMIKIRAN KE DEPAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
6.      DAFTAR PUSTAKA
7.      UCAPAN TERIMA KASIH
8.      DAFTAR RIWAYAT HIDUP
9.      DAFTAR KONTRIBUSI KEPERAWATAN JIWA PADA PELAYANAN KESEHATAN JIWA INDONESIA
10.  TEMA KONFERENSI NASIONAL KEPERAWATAN JIWA INDONESIA











Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kesehatan, waktu dan kesempatan yang diberikan sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini.
Selamat pagi, Salam sejahtera, Salam bahagia, Salam sehat dan Salam sukses untuk kita sekalian.

Yang terhormat,
Ketua dan para Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia
Ketua dan Sekretaris Senat Akademik Universitas Indonesia
Rektor dan para Wakil Rektor Universitas Indonesia
Ketua dan para Anggota Dewan Guru Besar Universitas Indonesia
Para Dekan Fakultas di lingkungan Universitas Indonesia
Para Staf Pengajar dan Karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Bapak, Ibu, Saudara para undangan dan hadirin yang saya hormati

Pertama-tama, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesehatan, perlindungan dan kesempatan untuk berkumpul pada forum yang terhormat ini. Suatu kesempatan, kebahagiaan dan kebanggaan bagi saya yang dipercaya sebagai Guru Besar di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, dan perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan yang saya susun berdasarkan pengalaman panjang selama berkiprah di area keperawatan jiwa sejak tahun 1975 sampai saat ini dengan judul:

Kontribusi Keperawatan Kesehatan Jiwa
dalam Meningkatkan Pelayanan
Kesehatan Jiwa di Indonesia

Hadirin yang saya hormati,
1.      PENDAHULUAN
Kontribusi pelayanan keperawatan kesehatan jiwa dalam meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa di dunia dan khususnya di Indonesia sudah dimulai sejak lebih dari satu abad yang lalu.
Keperawatan kesehatan jiwa mulai dikembangkan oleh Linda Richards yang bekerja  memulai karier  sebagai perawat di rumah sakit Ibu dan Anak di Boston,  Ia mengatakan “Klien gangguan jiwa harus dirawat sama baiknya dengan klien ganguan fisik”. Ia menjadi perawat jiwa dan mengembangkan keperawatan jiwa di rumah sakit jiwa di Illinois. Pada tahun 1882, dibuka sekolah perawat pertama di Massachusetts (Stuart, 2009), dan pada tahun yang sama dibuka rumah sakit jiwa pertama di Bogor, Indonesia (Mahdi, 1976; Thong, 2011). Pelayanan dan asuhan keperawatan pada saat itu berfokus pada klien gangguan jiwa dengan memberikan asuhan secara custodial (saat ini dikenal dengan pasung) dengan tujuan keamanan.

Perkembangan pelayanan keperawatan jiwa berlanjut tujuh puluh tahun kemudian (1952), ketika Hildegard Peplau yang dijuluki sebagai “mother of psychiatric nursing” menekankan hubungan interpersonal klien-perawat dengan menggunakan proses keperawatan. Klien dan perawat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah kesehatan jiwa yang dialami klien. Pada tahun yang sama Zr Magdalena Mahdi, MNSc (lulusan Amerika) melakukan perbaikan pelayanan keperawatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Bogor (sekarang RS dr H. Marzoeki Mahdi Bogor), melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa dengan ilmu psikiatri dan penerapannya pada pelayanan keperawatan jiwa. Beliau menerbitkan buku teks keperawatan jiwa  yang digunakan sebagai referensi bagi peserta didik keperawatan.

Pada tahun 60-an ini, di Amerika berkembang pelayanan keperawatan kesehatan jiwa di masyarakat yang didukung oleh “the Community Mental Health Centers Act of 1963” dan sejak saat itu terjadi peningkatan perawatan klien di masyarakat dan berdampak berkurangnya klien masuk ke rumah sakit jiwa. Perawat mulai melakukan pencegahan primer dan mengimplementasikan asuhan dan konsultasi keperawatan jiwa di masyarakat. Pada era yang sama, pembaharuan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia juga terjadi  dengan diterbitkannya Undang-undang Kesehatan Jiwa No 9 tahun 1966, dimana perawatan klien berfokus pada kemandirian klien melalui rehabilitasi psikososial.
Mulai tahun itu, di Indonesia dilakukan integrasi pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas melalui pengiriman tenaga kesehatan jiwa dari rumah sakit jiwa ke puskesmas secara periodik.

Pada tahun 70-an, pelayanan keperawatan kesehatan jiwa meluas dari yang tadinya “psychiatric and mental health nursing” ditambah dengan “psychosocial nursing”, dengan menerapkan asuhan keperawatan psikososial pada klien sakit fisik di rumah sakit umum. Di Indonesia pada era tersebut ada banyak rumah sakit umum yang mempunyai unit pelayanan psikiatri, namun belum tampak pelayanan psikososial bagi klien sakit fisik. Pelayanan Consultation Liaison Mental Health Nursing (CLMHN) belum berkembang dengan baik dan memerlukan upaya agar klien sakit fisik mendapatkan pelayanan yang holistik khususnya perawatan psikososial.

Keperawatan Kesehatan Jiwa (psychiatric mental health nursing) merupakan area praktik keperawatan yang khusus yang berkomitmen meningkatkan kesehatan jiwa melalui asesmen, diagnosis dan treatment terhadap respons manusia terhadap masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa (Stuart, 2009). Asuhan keperawatan kesehatan jiwa diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat pada keadaan sehat, risiko dan gangguan jiwa dengan melakukan promosi kesehatan jiwa, pencegahan dan treatment sepanjang daur kehidupan. (APNA, 2013). Domain keperawatan kesehatan jiwa kontemporer terdiri dari asuhan keperawatan (direct care) kepada klien dalam konteks keluarga, komunikasi (communication) yang terapeutik dalam memberikan asuhan, manajemen (management) pelayanan keperawatan secara terus menerus dan berfokus pada klien, pengajaran (teaching) kepada klien, keluarga, kelompok masyarakat yang peduli dan masyarakat secara keseluruhan sehingga lingkungan menjadi kondusif, koordinasi (coordinating) secara lintas sektor sehingga seluruhnya tertata dengan baik, delegasi (delegating) untuk mencapai pelayanan yang berkesinambungan  dan kolaborasi (collaborating) antara semua tim kesehatan yang memberikan pelayanan (Stuart, 2009). Untuk mewujudkannya semua domain itu, maka perlu program yang sistematis dan berkesinambungan.

Di Indonesia, semua pendidikan perawat mempunyai kurikulum untuk memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit jiwa, pelayanan keperawatan jiwa di masyarakat dan pelayanan aspek psikososial pada klien sakit fisik di rumah sakit umum dan masyarakat.
Penulis memulai karier sebagai perawat jiwa di rumah sakit jiwa pusat Bogor (RSJP Bogor) pada tahun 1975, dan mulai mengidentifikasi pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang berfokus  di rumah sakit jiwa dan bersifat custodial, dan mungkin sampai sekarang masih terjadi di beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia. Keliat (1997) menyampaikan perspektif keperawatan kesehatan jiwa di masa depan pada Jurnal Keperawatan Indonesia yaitu pelayanan professional rumah sakit jiwa, rumah sakit umum, puskesmas dan masyarakat. Pada tahun 2000 bersama-sama dengan tim keperawatan RSJP Bogor dan dosen keperawatan jiwa di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia mulai mengembangkan model praktik keperawatan professional jiwa (MPKP Jiwa). Di tatanan rumah sakit jiwa selanjutnya dikembangkan pula modul  perawatan intensif psikiatri bagi klien dengan kondisi akut dan memerlukan perawatan yang intensif.
Pelayanan keperawatan jiwa di masyarakat yang dikenal dengan Community Mental Helath Nursing (CMHN) telah dimulai melalui praktik mahasiswa sejak 1985, dan dikembangkan lebih lengkap bersama tim keperawatan (perawat rumah sakit jiwa dan dosen keperawatan jiwa di JABODETABEK) pada tahun 2005 dan dilakukan ujicoba di Aceh dengan bantuan WHO, ADB, CBM, USAID bekerjasama dengan dinas kesehatan propinsi, dinas kesehatan kabupaten/ kota, puskesmas dan masyarakat.
Pelayanan keperawatan kesehatan jiwa bagi klien sakit fisik telah dimulai melalui praktik mahasiswa keperawatan sejak 1985, kemudian mulai dikembangkan melalui pelatihan CLMHN pada beberapa rumah sakit umum sejak 2005. Semuanya ini dapat dilaksanakan sejalan dengan dibukanya pendidikan perawat spesialis jiwa pada tahun 2005 di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan sampai saat ini telah meluluskan sebanyak 70 orang, dengan kemampuan melakukan manajemen dan asuhan keperawatan di rumah sakit jiwa (MPKP), rumah sakit umum (CLMHN) dan masyarakat (MPKP) dengan melakukan tindakan keperawatan jiwa spesialis.
Semua buah pikiran, kegiatan dan program yang telah dijalankan sebagai kontribusi perawat jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa akan diuraikan secara singkat dan kiranya berguna sebagai tonggak awal bagi kemajuan di masa yang akan datang dengan keyakinan: klien gangguan jiwa dapat mandiri dan produktif, masyarakat yang risiko gangguan jiwa dapat dicegah dan masyarakat yang sehat jiwa tetap sehat dan berguna untuk bangsa dan negara sehingga Indonesia sehat jiwa dapat dicapai.

Bapak,  Ibu dan Hadirin yang saya muliakan,
2.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA
Kontribusi pelayanan keperawatan dalam peningkatan pelayanan kesehatan jiwa di  rumah sakit jiwa di Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periode yaitu periode kolonial Hindia-Belanda, periode zaman Jepang, periode awal kemerdekaan dan masa perkembangan keperawatan jiwa (keperawatan jiwa modern). Perkembangan keperawatan jiwa dimulai dan terus dikembangkan dari Rumah sakit jiwa pusat Bogor (RSJP Bogor) yang adalah RSJ pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1882 di Bogor (sekarang RS dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor). Pada saat awal pemberian perawatan bersifat custodial (dikurung atau diikat di tempat tertutup dan kontak dengan masyarakat sangat minimal) dengan tujuan keamanan bagi klien maupun lingkungan. Pada tahun 1915  Dr Theunisses dan Travaglino mulai mendidik wanita-wanita berkebangsaan Indo Belanda yang tamat Sekolah Dasar untuk menjadi  Mantri Juru Rawat di RSJ Bogor (Mahdi, 1976a). Pada tahun 1922 pendidikan serupa dilaksanakan di Lawang, Malang, Jawa Timur. Pada  tahun 1940, Direktur Rumah Sakit Jiwa Bogor  pada waktu itu, Dr Frins membuka sekolah perawat jiwa pertama untuk wanita-wanita berkebangsaan Indonesia (pribumi) dengan syarat lulusan MULO atau HBS dan berumur kurang dari 25 tahun. Ternyata sebagian besar yang diterima adalah  wanita-wanita Belanda  dan Indo Belanda, hanya ada 4 wanita Indonesia asli yang diterima menjadi siswa sekolah tersebut. Keempatnya adalah:  Magdalena Mahdi, Pelengkahu Senduk, Sihasale Locollo, dan Clara Mampuk-Frederic. Dari keempat wanita ini yang setia menjadi perawat jiwa hanyalah Magdalena  Mahdi (putri dr H. Marzoeki Mahdi yang adalah direktur pribumi pertama di RSJP Bogor) yang kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika dan memperoleh gelar master keperawatan. Beliau selain menjadi perawat di RSJP Bogor, juga menjadi pendidik perawat jiwa. Mulai tahun 1949 banyak pemuda Indonesia lulusan setingkat SMP dididik menjadi perawat jiwa, namun sistem pelayanan keperawatan masih menggunakan sistem kustodial.
Pada zaman Jepang menjajah Indonesia, tidak terlalu banyak catatan perkembangan pelayanan keperawatan di Indonesia. Cerita yang muncul adalah adanya kesengsaraan dan penderitaan klien gangguan jiwa yang kekurangan makan akibat depresi dunia berkepanjangan. Di rumah sakit jiwa di Indonesia angka kematian klien tinggi, juga akibat kelebihan jumlah klien yang tidak sesuai dengan kapasitas. Sistem perawatan klien gangguan jiwa masih menggunakan sistem kustodial (Mahdi, 1976a; Thong, 2011).
Pada masa kemerdekaan, perkembangan perawatan kesehatan jiwa di rumah sakit jiwa Bogor telah dimulai sejak era Zr. Magdalena Mahdi melalui peningkatan pelayanan dan asuhan keperawatan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa dengan ilmu psikiatri. Pada zamannya Zr Magdalena Mahdi telah menerbitkan buku teks keperawatan jiwa sebanyak 2 jilid yang memuat tentang ilmu psikiatri dan penerapannya dalam pelayanan keperawatan (Mahdi, 1976a; Mahdi, 1976b). Buku itu untuk beberapa lama menjadi pedoman dan referensi baik oleh perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa dan pendidikan keperawatan jiwa serta penngembangan kurikulum keperawatan jiwa di Sekolah Pengatur Rawat B, Sekolah Perawat Kesehatan, dan Akademi Keperawatan.
Pembaharuan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia terjadi  dengan setelah diterbitkannya Undang-undang Kesehatan Jiwa No 9 tahun 1966. Sistem perawatan klien menggunakan sistem psikososial dengan berfokus pada kemandirian klien melalui rehabilitasi psikososial.  Khusus di RSJP Bogor unit/ bidang rehabilitasi sangat berkembang sampai tahun 80an, unit terapi okupasi (occupational therapy), terapi kerja (vocational therapy) dan penempatan (placement). Perawat berperan serta melakukan kegiatan rehabilitasi, mulai kegiatan hidup sehari-hari dengan menciptakan ruang rawat seperti situasi rumah (home like athmosphere): perawatan diri,  penataan makan, mengeluarkan klien dari kurungan dan ruangan secara bertahap, membawa klien berjalan-jalan di sekitar rumah sakit (keluar dari ruang rawat), makan bersama di bawah pohon yang rindang di halaman rumah sakit (seperti rekreasi), kegiatan lomba seperti fashion show, bazaar, perlombaan olah raga dan seni. Kondisi klien dievaluasi untuk melanjutkan latihan di unit kerja rehabilitasi seperti: pertanian, pertukangan, kerajinan, menjahit. Banyak klien yang telah dapat berfungsi dengan baik (dinyatakan sembuh) tetapi tidak diambil pulang oleh keluarga sehingga dibukalah ruangan mandiri di mana klien mengelola sendiri kehidupan sehari hari (self government), seperti half way house di dalam rumah sakit dengan pengawasan minimal dari perawat. Dampak sistem pelayanan ini adalah perawatan klien cukup lama yang dimulai dari perawatan akut, perawatan intermediate (tenang) kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi di mana klien dilatih untuk hidup produktif. Pada saat itu terlupakan peran serta keluarga agar klien kembali ke rumah dan lingkungan hidupnya kembali. Kondisi pelayanan keperawatan yang manusiawi dan professional belum terwujud secara optimal, bahkan di beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia masih ada perawatan yang bersifat custodial.

Upaya berkontribusi dalam peningkatan pelayanan kesehatan jiwa oleh keperawatan dimulai pada tahun 1985 saat  pendidikan dan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang professional mulai dikembangkan dengan dibukanya pendidikan S1 keperawatan di Universitas Indonesia, dan mahasiswa melakukan praktik di RSJP Bogor di mana salah satu perawat RSJP Bogor yang menjadi mahasiswa angkatan pertama adalah penulis sendiri. Perawatan klien diberikan berdasarkan diagnosis keperawatan dan menggunakan tindakan keperawatan yang bertujuan memandirikan dan memulihkan fungsi klien dengan melibatkan keluarga dengan harapan keluarga dapat melanjutkan asuhan di rumah. Beberapa kendala teridentifikasi yaitu belum semua perawat mempunyai persepsi yang sama dalam merawat klien, lama rawat yang panjang (lebih dari 100 hari), perlakuan terhadap klien belum bermitra (lebih kepada apa yang diinginkan tenaga kesehatan), kunjungan keluarga yang minim (rata-rata hanya satu kali dalam dua bulan), kolaborasi dengan dokter belum optimal. Berdasarkan masalah dan kendala ini maka diperlukan reformasi pelayanan keperawatan jiwa dengan tujuan pemulihan klien secepat-cepatnya (tidak perlu lama dirawat di RSJ) agar dampak kemunduran fungsi (deteriorisasi) dapat dicegah  dengan melibatkan keluarga dan kerja sama tim kesehatan.
Sejalan dengan itu, pada tahun 1997, model praktik keperawatan professional (MPKP) dikembangkan di rumah sakit umum, khususnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (Sitorus, 2006) yang hasilnya menunjukkan peningkatan mutu asuhan keperawatan khususnya peningkatan pada kepatuhan perawat melaksanakan standar, kepuasan klien dan keluarga dan lama hari rawat lebih pendek (Sitorus, 2012).   Dengan izin Sitorus, konsep MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum dilakukan modifikasi dan disusun dalam bentuk MPKP Jiwa. Kegiatan ini dilakukan dengan kerja sama Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan Pimpinan dan tim Keperawatan RSJP Bogor  melalui surat kerjasama. Hal ini dapat dilakukan berkat dukungan direktur RSJP Bogor saat itu yaitu Alm. dr. Amir Husain, SpKJ selaku Direktur dan H. Supriyanto, SPd, MKes selaku Kepala Bidang Keperawatan yang memberikan satu ruangan dengan fasilitasnya untuk melakukan uji coba MPKP Jiwa di ruang rawat Srikandi.
MPKP Jiwa menggunakan 4 pilar pelayanan profesional yaitu (1) Penerapan manajemen keperawatan (Nursing management approach) yang terdiri dari 19 kegiatan yaitu 6 kegiatan perencanaan, 3 kegiatan pengorganisasian, 6 kegiatan pengarahan dan 4 kegiatan pengendalian, (2) Hubungan professional (Professional relationship) terdiri dari 4 kegiatan, (3) Sistem penghargaan (Compensatory reward) 2 kegiatan, dan (4) Manajemen asuhan keperawatan (Patient care delivery) yang berfokus pada 7 diagnosis keperawatan yang terbanyak yang teridentifikasi (Keliat, dkk, 2009). Pengembangan manajemen asuhan keperawatan diawali dengan melaakukan survey diagnosis keperawatan di 6 RSJ di Pulau Jawa, dan ditemukan 7 diagnosis keperawatan yang terbanyak yaitu perilaku kekerasan, halusinasi, harga diri sendah, isolasi sosial, defisit perawatan diri, waham dan risiko bunuh diri, kemudian ditetapkan standar asuhan keperawatan berupa tindakan keperawatan pada klien, keluarga dan tindakan kolaboratif (khususnya program terapi dokter). Seluruh kegiatan (35 kegiatan) ditetapkan sebagai kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh kepala ruangan dan  22 kegiatan sebagai kemampuan ketua tim serta 11 kegiatan sebagai perawat pelaksana. Kemampuan ini dilatihkan kepada perawat yang akan bekerja di ruang rawat yang menerapkan MPKP Jiwa, kemudian diikuti dengan pendampingan dan penilaian sampai mereka mampu melakukannya. Keluarga klien yang dirawat menandatangani inform consent bersedia minimal mengunjungi klien dua kali seminggu, dan mendapatkan pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien di rumah.
Penerapan MPKP jiwa berdampak positif pada perawat, tenaga kesehatan lain dan juga klien dan keluarga. Penelitian yang dilakukan oleh Fatiah (2002) di RSJP Bogor menemukan bahwa perawat yang bekerja di ruang MPKP Jiwa mempunyai kepuasan kerja yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan perawat yang bekerja di ruangan yang belum menerapkan MPKP Jiwa yaitu kepuasan terhadap pekerjaan, sistem pengawasan, promosi dan hubungan dengan rekan kerja. Pada penelitian Supriyanto (2003) ditemukan adanya kenaikan kepuasan keluarga klien terhadap pelayanan informasi, perawat, dokter, fasilitas medik, administrasi, lingkungan fisik, dan kesesuaian tarif terhadap pelayanan yang diterima di ruangan MPKP Jiwa. Dampak dari pelayanan MPKP Jiwa lainnya adalah keluarga loyal menggunakan pelayanan MPKP Jiwa di RSJP Bogor.
Sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang, MPKP Jiwa telah diterapkan di 23 dari 33 RSJ di Indonesia. Pada tahun 2010 Kementerian Kesehatan dalam hal ini Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa menetapkan bahwa MPKP menjadi indikator minimal pelayanan keperawatan di rumah sakit jiwa. Hal ini menjamin kepastian keberlanjutan MPKP Jiwa sebagai pedoman peningkatan kinerja pelayanan keperawatan (Dirkeswa, 2012). Beberapa penelitian dan survey telah dilakukan menunjukkan keberhasilan MPKP Jiwa dalam  meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.
Penerapan MPKP Jiwa yang diterapkan di RSJ Atma Husada Mahakam, Kalimantan Timur selama 6 bulan didapatkan hasil (Linda, 2010) sebagai berikut: rerata lama rawat menurun dari 15 hari menjadi 11,5 hari, angka klien lari menurun dari 10% menjadi 0%, angka pengekangan/pengikatan menurun dari 15% menjadi 5%, angka kemandirian klien meningkat dari 5% menjadi 17%, dokumentasi keperawatan meningkat dari 92% menjadi 100%. Selain itu ditemukan kepuasan klien meningkat dari 55% menjadi 74%,  kepuasan keluarga meningkat dari 60% menjadi 80%, kepuasan perawat meningkat dari 70% menjadi 85%, kepuasan tenaga kesehatan lain meningkat dari 70% menjadi 85%.
Hasil evaluasi penerapan MPKP di 4 ruang rawat inap RSJ HB Saanin Padang pada tahun 2010 ditemukan bahwa rerata BOR 82,25%, dan rerata lama rawat klien menjadi 34 hari. Sedangkan di RSJ Soerojo Magelang menunjukkan angka rerata BOR  73,5% dan rerata lama rawat 27 hari, kepuasan klien dan keluarga 91%, dan kepuasan perawat mencapai 85%. Di RSJ Radjiman WD, Lawang hasil evaluasi penerapan MPKP Jiwa ditemukan BOR 100%, rerata lama rawat 50 hari, angka pengekangan/pengikatan klien menurun dari 9 orang  menjadi 1 orang per bulan, dan tidak ada klien yang lari.
Dari hasil penelitian dan evaluasi penerapan MPKP Jiwa di beberapa RSJ menunjukkan MPKP memiliki daya ungkit peningkatan kualitas pelayanan kesehatan jiwa khususnya keperawatan di rumah sakit jiwa. Klien telah dirawat dengan lebih manusiawi, tidak diikat atau dikurung (no pasung di rumah sakit jiwa), lama rawat menurun walaupun belum menyamai lama rawat terendah negara yang maju yaitu kurang dari tujuh hari (Boyd & Nikart, 1999). Peran serta keluarga meningkat yang memungkinkan kesiapan menerima klien kembali ke rumah, namun teridentifikasi klien tidak diambil pulang oleh keluarga walaupun telah menunjukkan perbaikan dan siap pulang. Untuk itu dilakukan penelitian analisis kemampuan tinggal di masyarakat pada klien skizofrenia di lima rumah sakit jiwa di pulau jawa yang telah menjalankan MPKP jiwa. Hasil penelitian ditemukan (Keliat, dkk, 2011), rata-rata lama rawat klien 39 hari (terpendek 14 hari terlama 495 hari dengan n= 200 orang), klien yang mampu tinggal di masyarakat 46 %, artinya klien ini sudah boleh pulang tetapi belum diambil pulang oleh keluarga. Alasannya kemungkinan keluarga tidak mampu merawat di rumah atau tidak ada pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat. 
Kontribusi pelayanan keperawatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa juga dilakukan melalui berbagai penelitian klinis terapi modalitas keperawatan jiwa. Penelitian terkait dengan keberhasilan merawat diagnosis keperawatan klien telah dilakukan sejak 2001 sampai sekarang, yang hasilnya dapat dipakai sebagai tindakan keperawatan berbasis bukti. Pada tahun 2001 - 2002 dilakukan penelitian tentang pemberdayaan klien dan keluarga dalam merawat klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa pusat Bogor (Keliat, dkk, 2003). Klien dilatih mengendalikan perilaku kekerasannya secara fisik, sosial, spiritual dan obat antipsikotik, keluarga dilatih cara merawat dan memotivasi klien dalam mengendalikan perilaku kekerasan. Selama 120 hari setelah pulang dipantau kejadian perilaku kekerasan di rumah dan frekuensi masuk rumah sakit kembali (kambuh). Hasil penelitian (Keliat, dkk, 2009) menunjukkan bahwa klien dan keluarga yang diberdayakan mempunyai rata-rata lama rawat di rumah sakit lebih pendek secara bermakna dibandingkan dengan klien yang tidak mendapatkannya. Demikian pula lama tinggal di rumah (lama kambuh dan dirawat kembali) lebih panjang secara bermakna pada klien dan keluarga yang mendapat pemberdayaan dibandingkan dengan yang tidak mendapatkannya. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa klien mendapatkan antipsikotik yang tidak berbeda dengan klien lain tetapi mendapatkan asuhan keperawatan berupa pemberdayaan klien dan keluarga mempunyai lama rawat lebih pendek dan lama kambuh yang lebih panjang.
Penelitian berlanjut sejalan dengan dibukanya pendidikan spesialis keperawatan jiwa pada tahun 2005 di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Penelitian tentang asuhan keperawatan perilaku kekerasan (Wahyuningsih, Keliat & Hastono, 2009) yang membandingkan asuhan keperawatan generalis pada perilaku kekerasan dikombinasi dengan Assertiveness Training dibandingkan dengan yang hanya mendapat asuhan  generalis saja, maka ditemukan perilaku kekerasan pada kelompok yang mendapatkan asuhan generalis dan Assertiveness Training menurun secara bermakna pada respon perilaku, kognitif, sosial dan fisik (p value<0,05) dan pada kelompok yang hanya mendapatkan terapi generalis menurun secara bermakna pada respon perilaku, kognitif dan fisik (p value<0,05), penurunan pada pada kelompok yang mendapatkan terapi generalis dan Assertiveness Training lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan terapi generalis (p value< 0,05). Dari penelitian ini diidentifikasi aspek emosi pada asuhan keperawatan perilaku kekerasan belum mendapat perhatian, dan dilakukan penelitian lanjutan dengan melakukan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), yang salah satu tujuannya adalah memperhatikan aspek emosi.
Pada tahun 2010 (Putri, Keliat & Nasution, 2010) melakukan penelitian dengan menggunakan REBT yang bertujuan untuk menurunkan gejala/ respon emosi dan perilaku pada klien perilaku kekerasan. Hasil penelitian  menunjukkan peningkatan respon kognitif dan sosial serta penurunan respon emosi, perilaku, dan fisiologis secara bermakna (p-value≤0,05) pada klien yang mendapatkan  REBT dan asuhan generalis. Dari semua dampak terhadap respons tersebut ditemukan penurunan respon kognitif dan fisiologis yang paling rendah. Respon fisiologis belum teratasi dengan asuhan ini.

Penelitian terhadap perilaku kekerasan dilanjutkan dengan fokus perbaikan pada respon fisik dengan mengkombinasikan  Assertiveness Training dengan mengkombinasikan dengan Progressive Muscle Relaxation dengan alasan bahwa Progressive Muscle Relaxation bermakna menurunkan respon fisiologis pada klien ansietas (Supriati,  Keliat & Nuraini, 2010). Pada penelitian perilaku kekerasan diberikan Assertiveness Training  dan Progressive Muscle Relaxation. Hasil penelitian ditemukan penurunan gejala perilaku kekerasan termasuk aspek fisik pada klien yang mendapatkan AT dan PMR secara bermakna dan lebih besar secara bermakna dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan AT (Alini, Keliat, & Wardani, 2012).
Penelitian tentang halusinasi dilakukan dengan memberikan asuhan generalis halusinasi. Hasilnya (Carolina, Keliat & Sabri, 2008) menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor dalam mengendalikan halusinasi dan penurunan tanda halusinasi klien yang mendapat asuhan generalis secara bermakna dan juga lebih baik secara bermakna dengan klien yang mendapatkan asuhan yang lama. Penelitian halusinasi dilanjutkan dengan membandingkan asuhan generalis yang dikombinasikan CBT dengan hanya mendapat asuhan generalis. Hasil penelitian (Wahyuni, Keliat & Nasution, 2010) menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor dalam mengendalikan halusinasi dan penurunan tanda-tanda halusinasi secara bermakna.
Penelitian yang dilakukan pada klien dengan harga diri rendah dilakukan dengan memberikan asuhan generalis dan CBT dibandingkan dengan klien yang hanya diberi asuhan generalis. Hasil penelitian (Sasmita, Keliat & Budiharto, 2007) menemukan kemampuan kognitif dan perilaku meningkat secara bermakna pada klien yang mendapat CBT dan lebih tinggi secara bermakna pula jika dibandingkan dengan klien yang hanya menerima asuhan generalis.
Kondisi klien gangguan jiwa menunjukkan dual atau multiple diagnosis keperawatan, sehingga asuhan keperawatan juga diberikan pada semua diagnosis. Untuk itu dilakukan penelitian pada klien yang mempunyai diagnosis perilaku kekerasan dan harga diri rendah dan atau perilaku kekerasan dan halusinasi dan atau perilaku kekerasan, halusinasi dan harga diri rendah.
Sedangkan terapi yang dilakukan adalah gabungan REBT dan CBT yang disebut RECBT (Hidayat, Keliat & Wardani 2011; Sudiatmika, Keliat, & Wardani, 2011; Lelono, Keliat & Besral). Pada ketiga penelitian ini ditemukan peningkatan kemampuan klien dan penurunan gejala yang bermakna.
Penelitian pada diagnosa isolasi sosial telah dimulai pada tahun 1999 (Keliat, dkk, 1999) dengan melakukan Terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi (Keliat & Akemat, 2004). Hasilnya menunjukkan kemampuan sosialisasi klien meningkat secara bermakna. Penelitian dilanjutkan dengan memberikan social skill training (Renidayati, Keliat & Sabri, 200)8 dan hasilnya membuktikan kemampuan kognitif dan kemampuan sosialisasi kelompok yang mengikuti social skills training lebih tinggi secara bermakna dari kelompok yang tidak mengikuti social skills training. Klien yang bekerja mempunyai kemampuan sosialisasi yang lebih tinggi. Klien diagnosis isolasi sosial sering mempunyai kemampuan kognitif yang kurang terhadap lingkungan, berdasarkan hal ini dilakukan penelitian dengan memberikan cognitive behaviour social skill training (CBSST) (Jumaini, dkk, 2010). Hasil penelitian ditemukan kemampuan kognitif dalam menilai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan serta kemampuan psikomotor dalam bersosialisasi meningkat secara bermakna dan lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan CBSST.
Asuhan keperawatan di rumah sakit jiwa yang ditingkatkan secara terus menerus telah mempunyai makna dalam meningkatkan kemampuan klien dan keluarganya melalui asuhan generalis, terapi modalitas keperawatan dan psikoterapi yang diberikan oleh perawat generalis dan spesialis. Kontribusi perawat dalam memberikan asuhan  keperawatan dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan dengan melakukan praktik berdasarkan bukti (evidence based practice) sehingga pelayanan keperawatan di rumah sakit jiwa berkualitas dan prima yang memberi dampak pada kualitas hidup klien dan pada akhirnya meningkatkan kemandirian, produktivitas dan mengurangi stigma terhadap klien gangguan jiwa.
Manajemen keperawatan melalui MPKP Jiwa merupakan kegiatan pengelolaan asuhan dan pelayanan keperawatan di rumah sakit jiwa yang dapat menjamin pelayanan keperawatan yang kontinum, berfokus pada klien dan keluarganya, mengatakan tidak pada pengikatan/pengekangan selama dua puluh empat jam dan tujuh hari per minggu sehingga pencapaian hasil pelayanan dapat memuaskan pelanggan.
Pelayanan RSJ masih dipertanyakan apakah dapat menjamin kesembuhan klien dan dapat mandiri dan produktif setelah pulang? Hal ini penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit jiwa. Sementara itu, masih banyak klien di masyarakat yang memerlukan pelayanan RSJ,  jika 10 % estimasi gangguan jiwa yang memerlukan perawatan di rumah sakit jiwa mempunyai kesadaran tinggi untuk dirawat tentu turn over klien yang cepat diperlukan, tetapi setelah dirawat di RSJ ternyata tidak memberi jawaban untuk sembuh maka kepercayaan terhadap pelayanan RSJ tidak terbangun.  Namun demikian kita tidak akan menunggu kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan RSJ dahulu sebelum memberikan pelayanan di masyarakat, karena masyarakat mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa.
Sampai saat ini sebanyak 25 rumah sakit jiwa di seluruh Indonesia telah melakukan pelatihan MPKP Jiwa, dan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa telah menetapkan MPKP Jiwa dengan melakukan modifikasi sesuai dengan visi pelayanan kesehatan jiwa menjadi pedoman pelayanan keperawatan di rumah sakit jiwa. Dengan cara ini diharapkan pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit jiwa dapat dipertanggung jawabkan dan memberi kontribusi pada peningkatan pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit jiwa
Pelayanan rumah sakit jiwa yang optimal telah terbukti memperbaiki kondisi klien yang dirawat, namun belum menyelesaikan masalah kesehatan jiwa karena pelayanan di rumah sakit baru berfokus kepada peran aktif masyarakat membawa klien gangguan jiwa  (yang telah terganggu) yang jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan estimasi gangguan jiwa di masyarakat. Masih banyak klien gangguan jiwa belum dan tidak dibawa ke rumah sakit jiwa, demikian pula dengan masyarakat yang risiko gangguan jiwa (deteksi dini untuk pencegahan) dan masyarakat yang sehat jiwa (memerlukan promosi dan peningkatan ketahanan mental) yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa karena tidak tersedia di setiap tatanan pelayanan kesehatan.
Para Hadirin yang saya muliakan,
3.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI  MASYARAKAT
Upaya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat harus diberikan kepada masyarakat yang sehat jiwa, yang berisiko, dan yang mengalami gangguan jiwa. Masyarakat yang sehat diberi program promosi dengan tujuan meningkatkan dan mempertahankan kesehatan jiwa, kepada masyarakat yang berisiko dengan program pencegahan sehingga tidak terjadi gangguan jiwa dan pelayanan pada masyarakat yang terganggu (yang baru kembali dari rumah sakit dan yang belum terdeteksi dan dilayani) dengan program pemulihan dan rehabilitasi.
Di Indonesia, masalah kesehatan jiwa cukup besar namun tidak diimbangi dengan penyediaan sarana pelayanan kesehatan jiwa yang memadai. Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2007 menununjukkan data prevalensi nasional untuk gangguan jiwa berat pada usia > 15 tahun adalah 0,46%,  gangguan mental emosional pada usia > 15 tahun adalah 11,6 %. Berdasarkan temuan tersebut maka  estimasi jumlah penyandang gangguan jiwa berat di Indonesia adalah 772.800 orang  dan gangguan mental emosional 19,5 juta, sisanya adalah kelompok masyarakat yang sehat jiwa. Prevalensi masalah kesehatan jiwa belum diimbangi dengan fasilitas pelayanan kesehatan jiwa yang memadai. Saat ini di Indonesia hanya tersedia 33 rumah sakit jiwa, satu buah RSKO dan beberapa RSU yang menyediakan pelayanan kesehatan jiwa dengan jumlah kapasitas tempat tidur total kurang dari 9.000. Seandainya semua tempat tidur penuh, maka masih ada sekitar 763.000 orang gangguan jiwa berat yang berada di masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan jiwa. Selain itu diestimasi sekitar 18.000 dari klien gangguan jiwa berat yang masih berada di masyarakat menjadi korban pasung, yang tentu hal ini melanggar hak azasi manusia dimana pemerintah dan masyarakat tidak menghargai (to respect), gagal melindungi (to protect) dan gagal memenuhi kebutuhan (to fulfill) pelayanan kesehatan yang seharusnya diterima.
Penyandang gangguan mental emosional yang sebagian besar mengalami ansietas dan depresi selama ini belum ditangani dengan baik. Pada hari kesehatan jiwa sedunia, tahun 2012  dinyatakan sebagai tahun global depresi (WHO, 2012) dan diprediksi sekitar 1 di antara 20 penduduk pernah mengalami depresi pada tahun tersebut yang dimulai pada usia muda. Depresi berdampak pada fungsi kehidupan dan dapat berulang sepanjang kehidupan. Selama ini depresi dan ansietas seringkali tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer, sekunder maupun tersier. Klien penyandang masalah depresi atau ansietas yang menyertai keluhan fisik seringkali hanya ditangani keluhan fisiknya semata namun akar masalahnya tidak tertangani. Berdasarkan data WHO tahun 2001, klien yang sebenarnya mengalami masalah kesehatan jiwa yang datang ke puskesmas di Indonesia sebesar 30-50% tetapi yang terdeteksi dan dilaporkan hanya sekitar 2%.
Berbagai keadaan dapat mengakibatkan anggota masyarakat rentan  mengalami gangguan jiwa. Keadaan-keadaan tersebut meliputi pola asuh yang tidak optimal, penyediaan lingkungan yang tidak mendukung perkembangan, kemiskinan yang sering terkait dengan rendahnya pendidikan, bencana, penyakit fisik kronik. Semua hal tersebut berkaitan dengan target MDG’s. Dengan demikian apabila target MDG’s tidak tercapai maka risiko masyarakat mengalami gangguan jiwa akan semakin besar.
Kelompok masyarakat dengan jumlah terbesar adalah kelompok sehat jiwa dari usia bayi (bahkan yang masih dalam kandungan), kanak-kanak, remaja, dewasa sampai lansia. Kelompok ini sayangnya belum banyak mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa yang seharusnya diterima agar dapat mempertahankan dan mempromosikan kesehatan jiwanya. Mereka memerlukan pelayanan promosi kesehatan jiwa sehingga mempunyai jiwa yang sehat, ketahanan mental dalam menghadapi berbagai masalah di sepanjang kehidupan. Kelompok masyarakat ini bukannya bebas dari masalah kesehatan jiwa. Banyak masyarakat yang dianggap sehat jiwa namun sebenarnya mempunyai perilaku yang tidak bertanggung jawab, sering menyalahkan orang lain, merasa benar sendiri dan bahkan merugikan orang lain yang tentu memerlukan pelayanan agar dapat mempertahankan kesehatan jiwanya.
Ketiga kelompok masyarakat tersebut (sehat, risiko, dan gangguan) memerlukan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat. Kelompok yang sehat memerlukan promosi kesehatan jiwa, kelompok risiko memerlukan pencegahan masalah kesehatan jiwa dan kelompok gangguan jiwa memerlukan pelayanan kesehatan jiwa yang tepat sehingga mereka tetap dapat hidup produktif dan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun masyarakat. Untuk itu diperlukan terobosan dengan cara mendekatkan pelayanan kesehatan jiwa dengan masyarakat.
WHO (2001) telah memberikan sepuluh rekomendasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat yaitu tersedianya pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas; tersedianya psikofarmaka di semua pelayanan kesehatan; perawatan di masyarakat; pendidikan masyarakat; melibatkan klien, keluarga dan masyarakat; kebijakan dan legislasi kesehatan jiwa; pengembangan sumber daya manusia; kerjasama lintas sektor; monitoring kesehatan jiwa masyarakat dan penelitian. Rekomendasi ini diimplementasikan pada keperawatan kesehatan jiwa masyarakat (Community Mental Health Nursing/CMHN), yang merupakan pelayanan yang komprehensif, holistik, kontinum, dan paripurna berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa, rentan terhadap stres (risiko mengalami masalah kesehatan jiwa) dan gangguan jiwa (belum mendapat pelayanan atau memerlukan program pencegahan kekambuhan) (Keliat, dkk, 2007a). CMHN bekerjasama secara terpadu dengan tim kesehatan lain khususnya dokter puskesmas. Pelayanan keperawatan ini telah dimulai melalui praktik mahasiswa di masyarakat namun belum terintegrasi dengan pelayanan puskesmas, bahkan tidak termasuk dalam program pokok puskesmas.
Pelayanan kesehatan jiwa yang dikembangkan di  Provinsi Aceh berfokus pada pelayanan kesehatan jiwa masyarakat setelah terjadi Tsunami dan gempa pada tanggal 24 Desember 2004. CMHN dikembangkan dengan lebih baik sekitar tiga bulan setelah tsunami di Aceh, dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan jiwa secara optimal karena berdasarkan analisis masalah kesehatan jiwa akan menjadi 3-4% gangguan jiwa berat sedangkan stress ringan sampai berat dapat meningkat menjadi 20-50% (WHO, 2005). Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia terlibat aktif sejak tahap emergensi (tanggap darurat) sampai tahap rehabilitasi, melalui kerjasama dengan  Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota diseluruh provinsi Aceh (23 kabupaten/kota), Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI,  WHO representative Indonesia, HSP-USAID, ADB ETESP-Health. Penulis membentuk tim CMHN dan menyusun pelayanan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat di Aceh. Tim CMHN terdiri dari perawat dari rumah sakit jiwa, rumah sakit ketergantungan obat dan dosen keperawatan jiwa sejabodetabek yang tidak kenal lelah menyusun, mencoba, mengevaluasi dan mereplikasi di berbagai provinsi di Indonesia.
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam merealisasikan pelayanan CMHN di Aceh adalah sebagai berikut: menyusun kurikulum dan modul pelayanan CMHN, melatih fasilitator nasional, uji coba pelatihan di satu kabupaten (Aceh Besar), merevisi modul dan manajemen pelatihan, melakukan pelatihan pada seluruh kabupaten, melakukan supervisi & monitoring & evaluasi. Modul pelatihan dibagi tiga yaitu: Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat dasar (Basic Course  CMHN) berfokus pada anggota masyarakat yang mengalami gangguan jiwa berat (Keliat, dkk, 2007a), keperawatan kesehatan jiwa masyarakat intermediate (Intermediate Course CMHN) berfokus pada anggota masyarakat yang risiko dan sehat disertai pemberdayaan masyarakat melalui Desa Siaga Sehat Jiwa (Keliat, dkk, 2007 b,c,d), keperawatan kesehatan jiwa masyarakat  lanjutan (Advance Course CMHN) berfokus pada manajemen pelayanan keperawatan jiwa masyarakat disertai lanjutan pelayanan pada gangguan jiwa berat, risiko, sehat dan pemberdayaan masyarakat (Keliat, dkk, 2006).
Pelatihan perawat yang dimulai pada tahun 2005 di seluruh kabupaten / kota (23 kabupaten kota) dan di seluruh puskesmas kecamatan ( 273 PKM) melibatkan  peserta sebanyak 686 perawat dan melakukan pendampingan pelaksanaan pelayanan keperawatan pada masyarakat selama dua tahun secara terus menerus kemudian dilanjutkan dengan supervisi periodik sampai tahun 2010. Hasil pelatihan tersebut adalah ditemukan dan dirawat klien gangguan jiwa di masyarakat sebanyak 12.426 orang dan di antaranya ditemukan 196 klien yang dipasung. Setelah menerima pelayanan asuhan keperawatan dan pendampingan yang diberikan oleh KKJ maka sekitar 60 % klien menjadi mandiri (self care) bahkan di antaranya telah dapat bekerja dan mendapat penghasilan. Stigma di masyarakat berkurang seiring dengan meningkatnya peran serta masyarakat. Selanjutnya dinas kesehatan propinsi dan kabupaten / kota melanjutkan dan menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat di Aceh menjadi model pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat untuk Indonesia dan manca negara (Wheeler & Keliat, 2007)
CMHN di Aceh telah dievaluasi oleh evaluator external dan menemukan empat aktivitas yang bermakna yaitu kunjungan rumah, dokumentasi baik kualitas maupun kuantitas, pertemuan berkala sebagai upaya monev, supervisi/pengawasan secara berkala ke lapangan serta dampak yang ditemukan adalah perbaikan pengetahuan para perawat mengenai gangguan kesehatan jiwa, perbaikan pendeteksian kasus di masyarakat, angka awal perawatan meningkat, kepatuhan dalam melakukan perawatan meningkat, jumlah orang yang dilepaskan dari pasungan di masyarakat merupakan hasil yang dramatis (Kelleher, 2007).

Sebagai kelanjutan program CMHN, khususnya untuk mengatasi klien yang dipasung, Aceh mencanangkan program bebas pasung. Dalam rangka implementasi program bebas pasung, jajaran kesehatan jiwa di Aceh telah menemukan dan melepas dan merawat sebanyak 196 orang pada tahun 2005 – 2008, 120 orang pada tahun 2009, 88 orang pada tahun dan 122 orang pada tahun 2011 (DinKes Aceh, 2011). Belum semua klien pasung dapat dilepaskan dengan berbagai alasan. Dalam melepaskan klien dari pasung  seyogyanya target pelayanan bukan hanya sekedar melepas tetapi harus dilanjutkan dengan asuhan keperawatan dan pengobatan, latihan self care sehingga dapat mandiri dan akhirnya dapat bekerja dan produktif. Propinsi lain juga sedang melaksanakan program bebas pasung dalam rangka mendukung Indonesia Bebas Pasung (IBP) di mana pasung  dianggap tidak manusiawi dan melanggar HAM.

CMHN yang dikembangkan di Aceh direplikasi diberbagai kota/kabupaten dan propinsi di tanah air, yang pertama yaitu di Bogor sebagai tempat praktik mahasiswa S1 dan spesialis keperawatan jiwa sehingga terbentuk 3 puskesmas kecamatan yang memberikan pelayanan kesehatan jiwa, dengan 9 kelurahan dan 72 RW siaga sehat jiwa dengan 612 KKJ.

CMHN di DKI Jakarta juga dikembangkan mengingat DKI Jakarta merupakan salah satu propinsi yang mempunyai angka prevalensi tertinggi yaitu 14,1% (946.208 ribu) penduduk mengalami gangguan mental emosional dan 2,03% (136.227 ribu) mengalami gangguan jiwa berat. CMHN dikembangkan dengan melakukan pelatihan BC-CMHN kepada perawat puskesmas dan dokter umum di puskesmas di 6 wilayah DKI Jakarta. Jumlah tenaga kesehatan yang terlatih yaitu : dokter umum sebanyak 94 orang dan perawat sebanyak 193 orang. Jumlah klien yang dirawat oleh puskesmas maupun rumah sakit jiwa di DKI Jakarta sebanyak 2.072 orang. Coverage klien yang dirawat sebesar 2.072 (1.52%) dan treatment gap klien yang belum dirawat sebesar 134.155 (98,48%). Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan kepada klien gangguan jiwa maka dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui RW Siaga Sehat Jiwa (RS-SSJ) dengan melatih Kader Kesehatan Jiwa (KKJ). Kader yang telah dilatih sebanyak 221 orang di 6 wilayah DKI Jakarta. Untuk menilai keberhasilan program CMHN di wilayah DKI Jakarta, telah dilakukan penelitian tentang efektifitas penerapan model CMHN terhadap kemampuan hidup klien gangguan jiwa dan keluarganya di wilayah DKI Jakarta.
Penelitian dilakukan setelah pelatihan BC-CMHN diberikan kepada perawat puskesmas, kemudian dilanjutkan dengan home care yang dilakukan perawat CMHN melalui kunjungan rumah kepada klien gangguan jiwa dan keluarganya sebanyak 12 kali.   Hasil yang ditemukan: kemandirian dan waktu produktif klien meningkat secara bermakna, kemampuan kognitif dan psikomotor keluarga dalam merawat klien meningkat secara bermakna, serta beban keluarga menurun secara bermakna, kualitas hidup klien meningkat secara bermakna dan kepuasan keluarga dalam merawat klien lebih tinggi pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol (Keliat, Riasmini & Daulima, 2010)
Adanya dukungan Direktorat Pelayanan Kesehatan Jiwa dan PPSDM KemKes, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota maka di 17 propinsi telah mulai dikembangkan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat dengan CMHN lain yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Barat. Sampai saat ini telah ada sekitar 1.400 perawat puskesmas yang dilatih CMHN. Sangat diharapkan seluruh propinsi membantu pelayanan kesehatan jiwa masyarakat menuju Indonesia sehat jiwa.
Penelitian terkait pelayanan CMHN telah dilakukan di beberapa wilayah baik terhadap pelayanan dan asuhan pada klien gangguan jiwa, risiko dan sehat. Dalam berbagai penelitian tentang dampak CMHN  ditemukan CMHN berdampak positif dalam meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat.
Setelah CMHN dilaksanakan selama dua tahun di Kabupaten Bireuen Aceh maka dilakukan penelitian tentang hubungan pelayanan CMHN dengan tingkat kemandirian klien gangguan jiwa, dari 179 klien ditemukan yang mampu mandiri dalam aktivitas sehari-hari sebanyak 102 klien (57%), mampu mandiri dalam aktivitas sosial 95 klien (53%), mampu mandiri dalam pengobatan 109 klien (60,9%).  Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menemukan faktor pendukung  kemandirian klien dan ditemukan faktor yang mendukung kemandirian meliputi faktor internal (harapan untuk sembuh, makna kesembuhan, manfaat adanya kegiatan, sistem keyakinan) dan faktor eksternal (dukungan emosional, dukungan sosial, pengobatan) (Fitri, Keliat & Mustikasari, 2007).
Penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi kemampuan perawat yang dilatih terhadap 55 orang perawat dalam menjalankan CMHN di kabupaten Pidie Aceh, untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kinerja perawat (Sulastri, Keliat & Eryando, 2007). Hasilnya ditemukan bahwa program CMHN (rekrutmen, pelatihan, supervisi dan dukungan dari pimpinan) berhubungan secara bermakna terhadap kinerja perawat, dan yang paling dominan  adalah proses pelatihan. Perawat dengan pendidikan diploma 3 keperawatan mempunyai kinerja yang lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan pendidikan yang lebih rendah. Hasil penelitian ini mendorong tim CMHN melakukan sosialisasi ke berbagai pihak agar melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat khususnya keluarga yang merawat klien sangat diperlukan agar keluarga tetap bersemangat dalam merawat klien. Kelompok keluarga yang mempunyai anggota keluarga gangguan jiwa telah lama dikembangkan di Negara-negara maju. Untuk itu dilakukan penelitian terhadap pembentukan kelompok supportif keluarga (family supportive group) dan kelompok swabantu (self help group) dan dampaknya terhadap keluarga. Hasil penelitian bahwa pembentukan kelompok suportif keluarga meningkatkan kemampuan keluarga secara bermakna dalam merawat klien di rumah (Hernawaty, Keliat, & Kuntarti, 2009) dan pembentukan kelompok swabantu (Utami, Keliat & Gayatri, 2008) berdampak secara bermakna pada peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa.
Penelitian terhadap penduduk yang terdampak bencana gempa di Bantul dan Klaten menemukan di Kabupaten Bantul pada keluarga klien gangguan jiwa dengan masalah halusinasi keluarga merasa bosan dan terbebani yang berakibat asuhan klien terabaikan. Untuk itu keluarga diberikan Family Psychoeducation dengan tujuan mengurangi beban dan mampu merawat klien dengan Halusinasi (Wardaningsih, Keliat & Helena, 2007). Hasil edukasi ternyata dapat menurunkan beban keluarga secara bermakna  dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi. Di Klaten ditemukan bahwa penduduk terdampak gempa masih mengalami ansietas walaupun sudah tiga tahun berselang terjadinya gempa. Penelitian dilakukan dengan memberikan logoterapi, ternyata logoterapi menurunkan ansietas yang bermakna (Sutejo, Keliat, & Hastono, 2009).
Penelitian terhadap penduduk yang mengalami gempa dilakukan pula di Sumatra Barat, tepatnya di Kelurahan Air Tawar. Ketika dilakukan skrining Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) ditemukan sebanyak 56, 627% penduduk Air Tawar mengalami PTSD. Dengan memberikan CBT dapat  menurunkan tanda dan gejala  PTSD secara bermakna. Dari hasil beberapa penelitian terkait dengan asuhan kepada penduduk yang mengalami bencana alam, maka terbukti pelayanan keperawatan yang berbasis bukti perlu dilakukan agar penduduk dapat berfungsi optimal.
Lansia merupakan kelompok yang rentan dan sebagian di antara mereka tinggal di panti yang tidak mempunyai tenaga kesehatan. Di Indonesia, depresi paling tinggi pada lansia usia lebih 75 tahun yaitu 33.7% (DepKes R.I, 2008). Pada klien depresi sering ditemukan diagnosis keperawatan harga diri rendah, . Untuk itu dilakukan penelitian dengan pemberian logoterapi, reminiscence dan hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku dalam mengatasi harga diri rendah secara bermakna pada kelompok yang mendapat logoterapi, dan peningkatan ini lebih tinggi secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan logoterapi.

Kekerasan dalam rumah tangga sering ditemukan sebagai fenomena gunung es dan sukar terdeteksi, atau bahkan sering pasangan membantah terjadinya KDRT. Oleh karena itu penelitian dilakukan pada keluarga yang mempunyai risiko terhadap kekerasan. Penelitian dilakukan memberikan assertive training (AT) kepada kelompok suami yang mendapat AT, kelompok  istri yang mendapat AT. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan asertif suami meningkat sebesar  67,4% (p-value<0,05), dan risiko kekerasan oleh suami menurunan sebesar 29,6 %  (p-value<0,05) (Aini, dkk, 2011),  kemampuan asertif istri meningkat 86,9% (p-value< 0,05) dan persepsi istri terhadap kemungkinan kekerasan oleh suami menurun sebesar 71,3% (p-value<0,05). 

Kejadian bunuh diri pada remaja seringkali ditemukan dan dikaitkan dengan global depresi yang dimulai pada usia muda. Untuk itu dilakukan penelitian pada remaja, dengan melakukan skrining depresi pada remaja di SMA, ditemukan 71% risiko bunuh diri (n=229 orang). Setelah diberikan latihan pertahanan diri terhadap stress maka ditemukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pertahanan diri terhadap stress dan tingkat depresi menurun secara bermakna (Keliat, Daulima & Tololiu, 2010)
Asuhan dan pelayanan keperawatan jiwa kepada kelompok masyarakat yang sehat jiwa (prevensi dan promosi) terbukti juga meningkatkan status kesehatan jiwa masyarakat. Kelompok masyarakat yang sehat jiwa di masyarakat memerlukan program promosi agar mempunyai koping yang sehat dalam menghadapi kehidupan. Terapi kelompok terapeutik merupakan kegiatan memberikan stimulasi perkembangan pada kelompok (Keliat & Akemat, 2004), yang ditujukan untuk promosi kesehatan kesehatan jiwa dalam mencapai tugas perkembangan pada kurun waktu kehidupan. Untuk itu telah dilakukan beberapa riset dari ibu hamil, bayi, kanak-kanak, anak pra sekolah, anak sekolah, remaja dan lansia.
Ibu hamil memerlukan pengetahuan agar dapat beradaptasi dan memberikan stimulus kepada janin. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi kelompok terapeutik ibu hamil terhadap kemampuan ibu beradaptasi dengan kehamilannya dan memberikan stimus pada janinnya (Susmiatin, Keliat, Hastono & Susanti, 2010) menemukan hasil adanya kenaikan kemampuan adaptasi dan stimulasi janin lebih tinggi secara bermakna dan apabila hal ini dilaksanakan secara konsisten  berpeluang meningkatkan kemampuan adaptasi emosi sebesar 48,1%, adaptasi sosial 28,5% dan stimulasi janin 34,5%. 
Penelitian terhadap perkembangan rasa percaya bayi dilakukan dengan melakukan terapi kelompok terapeutik bayi pada ibu dengan melatih ibu mempraktikkan cara menstimulasi rasa percaya bayi.  Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif, psikomotor ibu, dan perkembangan rasa percaya bayi  secara bermakna pada ibu yang mendapat TKT (Daniati, dkk, 2010).
Penelitian yang telah dilakukan (Trihadi, Keliat & Hastono, 2009) yaitu stimulasi perkembangan pada kelompok kanak-kanak dan melatih ibu untuk melakukannya menemukan hasil adanya peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor keluarga dalam memberikan stimulasi perkembangan lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan keluarga yang tidak mendapat terapi kelompok terapeutik.
Penelitian pada pra anak sekolah dilakukan di Lampung (Damayanti, Keliat & Hastono, 2010) yaitu penelitian dampak Terapi Kelompok Terapeutik stimulasi perkembangan kepada  anak pra sekolah dan ibu yang akan melakukan stimulasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor ibu serta perkembangan inisiatif anak meningkat secara bermakna setelah ibu mendapat Terapi Kelompok Terapeutik. Penelitian dilanjutkan untuk anak sekolah yang ditujukan kepada anak, orangtua dan guru (Walter, dkk, 2009 ; Sunarto, Keliat, & Pujasari, 2011; Istiana , Keliat & Nuraini, 2011). Penelitian ini menemukan peningkatan kemampuan yang tertinggi pada anak sekolah pada pemberian stimulasi langsung kepada anak ditambah memberdayakan orangtua dan guru dibandingkan hanya kepada anak saja.
Penelitian pada kelompok usia remaja telah dilakukan terhadap pembentukan identitas dan sikap asertif bagi ibu. Pembentukan  identitas diri merupakan aspek sentral tugas perkembangan pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Pembentukan  identitas diri remaja melalui pendekatan terapi kelompok  menunjukkan peningkatan identitas diri remaja secara bermakna (Bahari, dkk, 2010).
Berkaitan dengan perilaku remaja, sering ditemukan ibu yang tidak sabaran dan menilai anak remaja sebagai anak nakal. Untuk itu dilakukan penelitian dengan melatih ibu sikap asertif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan secara bermakna kemampuan komunikasi asertif ibu pada kelompok yang mendapat latihan asertif, sedangkan pada kelompok tanpa latihan asertif menurun secara bermakna (Novianti, dkk, 2010)
Pada penelitian terhadap peningkatan diri rasa percaya diri yang dilakukan pada remaja  dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok pertama mendapat buku pedoman, dilatih serta dibimbing, kelompok kedua  diberi buku pedoman, dilatih dan tanpa dibimbing serta kelompok ketiga hanya diberi buku pedoman tanpa dilatih dan dibimbing (Nurlis, Keliat, & Besral, 2008). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rasa percaya diri  remaja meningkat secara bermakna dan lebih tinggi secara secara bermakna pada kelompok pertama dibandingkan dengan kedua kelompok yang lain. Penelitian pada lansia dalam peningkatan integritas diri dilakukan dengan memberikan  terapi kelompok terapeutik, dan hasilnya  meningkatkan kemampuan adaptasi dan perkembangan integritas diri secara bermakna dan lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan yang tidak mendapat terapi kelompok terapeutik (Guslinda, Keliat,  & Widiatuti, 2011).
Kontribusi lain dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat di 32 tempat di Sumatra Utara melalui seminar keluarga harmonis, yang terdiri dari komunikasi dalam keluarga, manajemen stress dan konflik dalam keluarga mencapai 7.035 orang, pelayanan prima dan manajemen waktu mencapai 1.766 orang dan manajemen stress dan perilaku hidup bersih dan sehat di pengungsian gunung Sinabung, Lokon, Merapi dan Banjir Jakarta  mencapai 14.100 orang.

Dari seluruh uraian tentang kontribusi keperawatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat dapat dipetik hal yang penting yaitu masyarakat merupakan tempat pelayanan kesehatan jiwa utama karena dapat menjangkau kelompok yang sehat, risiko dan gangguan serta pemberdayaan seluruh masyarakat dan komponen terkait dapat dilakukan. Bersama masyarakat kita wujudkan Indonesia sehat jiwa.

Hadirin yang saya muliakan,
4.      KONTRIBUSI KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DALAM PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI  RUMAH SAKIT UMUM
Kontribusi keperawatan jiwa pada klien sakit fisik yang dirawat di rumah sakit umum belum berkembang dengan baik.  Bebrapa fakta ditemukan bahwa klien dengan penyakit fisik mengalami ansietas dan depresi. Siege dan Giese-Davis (2003) menemukan klien  kanker mengalami  depresi  ringan – sedang 33%, 25 % depresi berat . Sedangkan Wilson (2007) menemukan  24.4 % ansietas dan depresi, 13.9% ansietas dan 20.7 % mengalami depresi.  Di salah satu penelitian di Indonesia, ditemukan 98.1% klien kanker mengalami depresi (n=106) (Yunitri, Keliat, & Hastono, 2012). Amira di Nigeria (2011) menemukan 61.9 %  klien penyakit ginjal kronik mengalami depresi.

Fakta-fakta di atas menunjukkan kebutuhan keperawatan jiwa di rumah sakit umum untuk klien dengan masalah fisik, karena depresi dapat berdampak kepada kualitas hidup (WHO, 2012). Salah satu alasan masuknya keperawatan kesehatan jiwa pada arus utama pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit umum karena meningkatnya masalah kesehatan jiwa pada klien dengan sakit fisik di bagian medikal atau bedah mengalami masalah kesehatan jiwa  (Sharrock, & Happell, 2002). Klien memerlukan perawatan pada respon klien secara emosi, spiritual,  perilaku dan kognitif terhadap masalah fisik yang dialaminya.

Psychiatric and mental liaison nurse adalah perawat yang memberikan konsultasi kesehatan jiwa pada klien sakit fisik dengan melakukan asesmen dan tindakan baik kepada klien maupun kepada keluarga (Frisch & Frisch , 2006). Seyogyanya seluruh perawat memberikan asuhan keperawatan secara holistik artinya bukan hanya kepada diagnosis fisik saja tetapi juga diagnosis psikososial atau masalah kesehatan jiwa klien. Asuhan keperawatan difokuskan kepada masalah biologis, pikiran, emosi, psikologis, spiritual, sosial dan lingkungan  klien. Asuhan keperawatan yang diberikan dengan pendekatan consultation liaison mental health nursing berfokus pada diagnosis keperawatan yang berkaitan dengan diagnosis medis (anxietas dan depresi) yaitu ansietas, gangguan citra tubuh, harga diri rendah situasional, keputusasaan dan ketidakberdayaan (Keliat, B. A., Daulima & Farida, 2007d). Standar asuhan keperawatan generalis dan terapi modalitas keperawatan jiwa telah dikembangkan untuk menyelesaikan diagnosis keperawatan yang sering ditemukan pada klien sakit fisik yang dirawat di rumah sakit umum.
Perawat merupakan tenaga kesehatan yang terbanyak, terlama dan yang pertama melakukan kontak dengan klien sehingga mempunyai kesempatan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dialami klien. Jika seluruh interaksi perawat dengan klien memberi kesan positif maka tenaga perawat dapat berkontribusi dengan baik dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit umum. Pendekatan CLMHN merupakan salah satu pilihan untuk mewujudkannya.

Pelatihan CLMHN direncanakan untuk seluruh karyawan rumah sakit umum dan untuk perawat rumah sakit umum. Kemampuan yang direncanakan bagi seluruh karyawan (termasuk perawat) adalah sikap caring, pelayanan prima dan komunikasi yang efektif dan terapeutik sedangkan untuk perawat ditambah  pelatihan asuhan keperawatan psikososial. Pelatihan ini telah dilaksanakan diberbagai rumah sakit umum di Indonesia namun belum merupakan program wajib bagi rumah sakit umum. Untuk pelatihan bagi karyawan telah dilakukan dibeberapa rumah sakit umum yaitu rumah sakit Siloam Karawaci (30 orang), rumah sakit Cikini Jakarta (400 orang), rumah sakit Immanuel Bandung (440 orang), rumah sakit Sudarso Pontianak (90 orang), rumah sakit RSCM Jakarta (120 orang),   rumah sakit Duri Riau (22 orang), rumah sakit Panti Waluyo (40 orang), rumah sakit UKI Jakarta (90 orang), rumah sakit Duren Sawit (40 orang), rumah sakit MRCCC Jakarta (40 orang) dan rumah sakit Dr Iskak Tulung Agung (320 orang dan direncanakan untuk 1000 karyawan).

Sedangkan pelatihan khusus untuk perawat (sikap caring, pelayanan prima,  komunikasi yang efektif dan terapeutik serta asuhan keperawatan psikososial) telah dilakukan di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung (60 orang), rumah sakit Fatmawati Jakarta (30 orang), rumah sakit Persahabatan Jakarta (30 orang), rumah sakit umum di Kutai Timur (30 orang), rumah sakit umum Tarakan Kalimantan Tinur (30 orang).

Beberapa evaluasi dan penelitian telah dilakukan untuk mengetahui dampak dari pelatihan dan berbagai terapi modalitas keperawatan jiwa yang telah dilakukan di rumah sakit umum. Survey kepuasan terhadap pelayanan keperawatan dilakukan di rumah sakit Hasan Sadikin dan hasilnya meningkat dari 72% menjadi 77% demikian pula survey yang dilakukan di rumah sakit Dr. Iskak Tulung Agung dan hasilnya meningkat dari 78.44% menjadi 89.36%, sedangkan kepuasan terhadap pelayanan dokter spesialis meningkat dari 81.95% menjadi 91.67%.

Penelitian terhadap tindakan keperawatan yang khusus ditujukan kepada masalah kesehatan jiwa telah dilakukan dibeberapa rumah sakit. Ansietas merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa yang banyak diderita klien gangguan fisik yang dirawat di rumah sakit umum. Untuk itu dilakukan penelitian dengan memberikan tindakan keperawatan thought stopping (penghentian pikiran) dan hasilnya menurunkan ansietas secara bermakna, namun dampak pada aspek fisik masih rendah (Agustarika, Keliat & Nasution, 2009). Oleh karena itu penelitian lanjutan dilaksanakan dengan memberikan Thought Stopping  untuk pikiran dan progressive muscle relaxation untuk relaksasi fisik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan ansietas sedang ke ringan sedangkan pada klien yang mendapatkan keduanya, namun yang hanya  mendapat thought stopping menurunkan ansietas tetapi tetap pada  ansietas sedang. Thought stopping dan progressive muscle relaxation menurunkan respon fisiologis, kognitif, perilaku dan emosi secara bermakna (p-value<0,05) (Supriati, dkk, 2010).

Pemberdayaan keluarga yang berperan sebagai pelaku rawat diperlukan untuk mencapai self care pada saat klien pulang, namun keluarga  sering mengalami ansietas khususnya penyakit akut dan atau kronik seperti stroke, untuk itu keluargapun merupakan target asuhan keperawatan agar mempunyai ketahanan dan kekuatan merawat klien. Penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta pada keluarga klien stroke dengan memberikan psikoedukasi keluarga, maka ditemukan ansietas keluarga menurun secara bermakna (Nurbani, Keliat, & Nasution.2009).

Penelitian dilanjutkan dengan melakukan terapi modalitas keperawatan jiwa pada beberapa kasus dengan penyakit kronis yaitu gagal ginjal kronis dan kanker. Klien gagal ginjal yang memerlukan cuci darah sering mengalami depressi, dan pada penelitian ini diukur tingkat depresinya dan dilakukan terapi kognitif. Hasilnya menunjukkan penurunan depresi secara bermakna dan lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kelompok klien yang tidak mendapatkan terapi kognitif serta jika terapi kognitif dilaksanakan secara konsisten oleh klien akan  berpeluang untuk menurunkan depresi sebesar 31,2% (Kristyaningsih, Keliat, & Daulima, 2009).

Pada klien kanker juga sering ditemukan pikiran negatif, perasaan tidak bermakna, merasa tidak berdaya, perasaan putus asa dan keluhan fisik yang menonjol, serta tingginya kondisi ansietas dan depresi.  Pada penelitian klien kanker yang mengalami depresi dan diberikan logo terapi dan progressive relaxation therapy, ansietas turun secara bermakna namun masih dalam tingkat sedang, depresi turun bermakna dari sedang  ke ringan (Tobing, Keliat, Wardani, 2012). Demikian pula pemberian terapi kognitif dan penghentian pikiran menurunkan ansietas dan depresi secara bermakna (Pasaribu, Keliat, &Wardani, 2012). Sedangkan pemberian terapi kelompok suportif ekspresif ditemukan penurunan depresi sebesar 9.15 point sedangkan yang tidak mendapat hanya 0.28 point (Yunitri, Keliat, & Hastono, 2012).

Kontribusi keperawatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit umum telah memberi dampak perbaikan kondisi kesehatan klien dan keluarganya dengan baik, hal ini perlu terus dilaksanakan agar perawat terasa bermakna bagi klien, keluarga dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati,
5.      PERCEPATAN DAN DESIMINASI KEPERAWATAN JIWA (ROAD MAP KEPERAWATAN JIWA)
Kontribusi keperawatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa pada seluruh tatanan pelayanan kesehatan perlu dilaksanakan di seluruh tanah air disesuaikan dengan situasi daerah masing-masing. Untuk itu bekerjasama dengan organisasi profesi perawat jiwa yaitu Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) melakukan berbagai temu ilmiah dalam rangka mendesiminasikan dan mesosialisasikan seluruh kegiatan dan kemajuan yang telah dilakukan dengan harapan seluruh perawat jiwa di Indonesia melakukan kontribusi pada pelayanan kesehatan jiwa di wilayahnya masing-masing bekerja sama dengan lintas program dan sektor. Temu ilmiah berupa konferensi nasional yang rutin dilakukan setiap tahun dilaksanakan di provinsi yang telah melakukan berbagai kegiatan yang memajukan pelayanan keperawatan jiwa, serta tema kegiatan disesuaikan dengan kemajuan, tantangan dan isu yang dihadapi dalam pelayanan, pendidikan dan penelitian yang diidentifikasi setiap tahun.

 Road map keperawatan jiwa dibagi dalam tiga area yaitu pendidikan, pelayanan dan penelitian. Kemampuan perawat dalam keperawatan jiwa disepakati pada tiap jenjang pendidikan yaitu untuk perawat D3 keperawatan mampu memberikan asuhan keperawatan pada 5 diagnosis gangguan jiwa, 3 diagnosis risiko/psikososial dan 8 diagnosis sehat dengan tindakan generalis dan terlibat dalam pelayanan keperawatan di tingkat perawat pelaksana dan ketua tim di rumah sakit dan atau penanggungjawab pelayanan tingkat RW serta mempunyai kemampuan mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan.

Untuk perawat S1 keperawatan ners mempunyai kemampuan memberikan asuhan keperawatan pada 7 diagnosis keperawatan gangguan jiwa, 5 diagnosis risiko/psikososial,  8 diagnosis sehat dan melakukan terapi aktifitas kelompok serta mampu menjadi perawat pelaksana, ketua tim dan kepala ruangan di rumah sakit dan atau penanggung jawab purkesmas pembantu dan kecamatan serta merumuskan masalah penelitian & menggunakan hasil penelitian.

Untuk perawat spesialis keperawatan jiwa mempunyai kemampuan memberikan asuhan keperawatan pada 11 diagnosis gangguan jiwa, 11 diagnosis risiko/psikososial, 11 diagnosis sehat dan melakukan terapi modalitas keperawatan jiwa. Dalam pelayanan keperawatan mampu menjadi perawat pelaksana spesialis, ketua tim, kepala ruangan, kepala bidang keperawatan dan direktur keperawatan. Dalam bidang penelitian mampu merumuskan masalah penelitian, melakukan penelitian dan menggunakan hasil penelitian sebagai praktik berbasis bukti (evidence based practice). Di masyarakat dapat menjadi penanggung jawab pelayanan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota dan propinsi.

Perawat jiwa yang bekerja di masyarakat baik dinas kesehatan maupun puskesmas merupakan bagian dari perawat keperawatan kesehatan masyarakat (PERKESMAS) atau dapat disebut sebagai perawat PERKESMAS PLUS dan  wajib menjalankan semua yang diamanatkan KEPMENKES 279/MENKES/IV/2006 di area keperawatan kesehatan jiwa masyarakat. Diharapkan perluasan jangkauan PERKESMAS ini semakin meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. Rencana satu perawat D3 plus keperawatan jiwa per Kelurahan; satu perawat S1 Ners plus keperawatan jiwa  per Kecamatan disertai RW/Desa siaga sehat jiwa; dan satu perawat spesialis keperawatan jiwa per  kabupaten/kota dan propinsi dan diharapkan dapat meningkatkan cakupan klien gangguan jiwa dan pasung, meningkatkan pencegahan gangguan jiwa pada kelompok masyarakat yang mempunyai faktor risiko dan mempertahankan serta mempromosikan kesehatan jiwa pada kelompok masyarakat sehat jiwa yang akhirnya mewujudkan Indonesia sehat jiwa.




6.      DAFTAR PUSTAKA
1.      Agustarika, B., Keliat, B. A., & Nasution, Y. (2009). Pengaruh terapi thought stopping terhadap ansietas klien dengan gangguan fisik di RSUD Kabupaten Sorong. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
2.      Aini,. Keliat, B. A., & Nuraini, T. (2011). Pengaruh assertive training therapy terhadap kemampuan asertif suami dan risiko kekerasan dalam rumah tangga di Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
3.      Amira, O. (2011). Prevalence of symptoms of depression among patients with chronic kidney disease. Nigerian Journal of Clinical Practice, Volume: 14, Issue:4, Page: 460-463
4.      APNA (2013). About Psychiatric-Mental Health Nurses (PMHNs). Diunduh dari  http://www.apna.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=3292#1, pada tgl 28 Januari 2013
5.      Bagian Diklit RS Marzoeki Mahdi Bogor. (2010). Laporan konvensi Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa I, 29-31 Juli 2010. Bogor: Bag Diklit. Tidak Diterbitkan.
6.      Bahari, K., Keliat, B. A., Gayatri, D. & Helena, N. C. D. ( 2010). Pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap perkembangan identitas remaja di kota Malang. Journal Kesehatan (The Journal of Health), Vol. 8, No. 2, November.
7.      Basmanelly., Keliat, B. A., & Gayatri, D. (2008). Pengaruh home visit terhadap kemampuan keluarga dan klien halusinasi Di Kota Padang. Depok: Universitas Indonesia, tesis tidak dipublikasikan
8.      Boyd, M. A., & Nikart, M. A. (1999). Psychiatrict nursing contemporary practice. Philadelphia: Lippincott.
9.      Carolina., Keliat, B. A., & Sabri, L. (2008). Pengaruh penerapan standar asuhan generalis terhadap halusinasi di RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
10.  Damayanti, R., Keliat, B. A., Hastono., & Helena. (2010). Pengaruh terapi kelompok terapeutik (TKT) terhadap kemampuan Ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan inisiatifa anak usia pra sekolah di Kelurahan Kedaung Bandar Lampung. Depok: Universitas Indonesia, Tesis, tidak dipublikasi.
11.  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2007. Jakarta: DepKes. R.I
12.  Erwina, I., Keliat, B. A., Nasution, Y., & Helena, N. C. D. (2010). Pengaruh cognitive behavior therapy terhadap post traumatic stress disorder pada penduduk pasca gempa di Kelurahan Air Tawar Barat Kecamatan Padang Utara Propinsi Sumatera Barat. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak diterbitkan.
13.  Fatiah & Keliat, B. A. (2002). Hubungan antara pengetahuan, persepsi, dan sikap perawat terhadap Model Praktek Keperawatan Profesional dengan kinerja dan kepuasan kerja perawat di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gajah mada. Tesis tidak diterbitkan.
14.  Fitri, L. D. N., Keliat, B. A. & Mustikasari. (2007). Hubungan Pelayanan Community Mental Health Nursing (CMHN) dengan Tingkat Kemandirian Klien Gangguan Jiwa di Kabupaten Bireuen Aceh. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
15.  Frisch, N. C. & Frisch, L. E. (2006). Psychiatric mental health nursing. (3rd ed). New York: Thomson Delmar Learning.
16.  Guslinda, Keliat, B. A., & Widiatuti. (2011). Pengaruh terapi kelompok terapeutik lansiaterhadap kemampuan adaptasi dan perkembangan integritas dirilansia di kelurahan Surau Gadang kecamatan Nanggalo Padang. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
17.  Hernawaty, T., Keliat, B. A., & Kuntarti. (2009). Pengaruh terapi suportif keluarga terhadap kemampuan keluarga merawat klien gangguan jiwa di Kelurahan Bubulak Bogor Barat. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
18.  Hidayat, E., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2011). Pengaruh cognitive behavior therapy (CBT) dan rational emotive behavior therapy (REBT) terhadap klien perilaku kekerasan dan harga diri rendah di RS Dr. H. Marzoeki Mahdi  Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
19.  Istiana, D., Keliat, B. A., & Nuraini, T. (2011). Terapi kelompok terapeutik anak sekolah pada anak-orangtua dan anak-guru meningkatkan perkembangan mental anak usia sekolah. Jurnal Ners, Volume 6, Nomor 1, April 2011
20.  Jumaini, Keliat, B. A., Hastono, S. P., & Helena, N. C. D. (2010). Pengaruh cognitive behavioral social skills training (CBSST) terhadap kemampuan bersosialisasi klien isolasi sosial di BLU RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
21.  Kelleher, K. (2007) Community mental health nursing: Basic module review and evaluation. Brisbane: JTA International
22.  Keliat, B. A., Panjaitan, R. U., Mustikasari. & Helena, N. C. D. (1999). Pengaruh model terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) terhadap kemampuan komunikasi verbal dan non verbal pada klien menarik diri di rumah sakit jiwa. Journal Keperawatan Indonesia, volume 2, No.8, Desember.
23.  Keliat, B. A., Azwar, A., Bachtiar, A., Hamid, A. Y. S. (2003). Pemberdayaan klien dan keluarga dalam perawatan klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa pusat Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Disertasi tidak diterbitkan.
24.  Keliat, B. A., & Akemat. (2004). Terapi aktifitas kelompok. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC
25.  Keliat, B.A., & Akemat. (2007a). Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta: Penerbitan Buku Kedokteran EGC.
26.  Keliat, B. A., Akemat., Helena, N. C. D., & Nurhaeni, H. (2007b). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: CMHN (Basic Course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
27.  Keliat, B. A., Panjaitan, R. U., & Riasmini, M. (2007c). Manajemen keperawatan jiwa komunitas desa siaga: CMHN ( Intermediate Course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
28.  Keliat, B. A., Helena, N. C. D., & Farida, P. (2007d). Manajemen keperawatan psikososial & kader kesehatan jiwa: CMHN (Intermediate Course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
29.  Keliat, B. A., Wiyono, A. P., & Susanti, H. (2007e). Manajemen kasus gangguan jiwa: CMHN (Intermediate Course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
30.  Keliat, B. A., Azwar, A., Bachtiar, A., Hamid, A. Y. S. (2009). Influence of the abilities in controlling violence behavior to the length of stay of schizophrenic client in Bogor mental hospital, Indonesia. Medical Journal  Indonesia, Vol. 8, No. 1, January-March.
31.  Keliat, B. A., Daulima, N. H. C., & Tololiu, T. A. (2010). Efektifitas latihan pertahanan diri terhadap risiko bunuh diri remaja di Depok, Indonesia. Depok: Riset Kluster DRPM UI, tidak dipublikasi
32.  Keliat, B. A., Riasmini, M., & Daulima, N. H. C. (2010). Efektifitas penerapan Model Community Mental Health Nursing terhadap kemampuan hidup klien gangguan jiwa dan keluarganya di wilayah DKI Jakarta. Depok: Riset DRPM UI, tidak dipublikasi
33.  KEPMENKES 279. (2006). Pedoman penyelenggaraan upaya keperawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan.
34.  Kristyaningsih, T., Keliat, B. A., & Daulima, N. H. C. (2009). Pengaruh Terapi Kognitif terhadap Perubahan Harga Diri dan Kondisi Depresi Klien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Haemodialisa RSUP Fatmawati Jakarta Tahun 2009
35.  Lelono, S. K., Keliat, B. A., & Besral. (2011). Efektivitas cognitive behavioral therapy (CBT) dan rational emotive behavioral therapy (REBT) terhadap klien perilaku kekerasan, halusinasi dan harga diri rendah di  RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
36.  Mahdi, M.R. (1976a). Perawatan psikiatri (Jilid 1). Bogor: Tidak dipublikasi.
37.  Mahdi, M.R. (1976b). Perawatan psikiatri (Jilid 2). Bogor: Tidak dipublikasi.
38.  Nauli, F. A., Keliat, B. A., & Besral. (2011). Pengaruh logoterapi pada lansia dan psikoedukasi keluarga terhadap depresi dan kemampuan memaknai hidup pada lansia di Kelurahan Katulampa Bogor Timur: Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
39.  Novianti, E., Keliat, B. A., Nuraini, T. , & Susanti, H. (2010). Pengaruh terapi kelompok assertiveness training terhadap kemampuan komunikasi ibu dalam mengelola emosi anak usia sekolah (7-12 tahun) di Kelurahan Balumbang Jaya Kota Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
40.  Nurbani,. Keliat, B. A., & Nasution, Y. (2009). Pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap masalah psikososial ansietas dan Beban keluarga (Caregiver) dalam merawat klien stroke di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
41.  Nurlis, Keliat, B. A., & Besral (2008). Pengaruh latihan membangun kepercayaan diri terhadap rasa percaya diri remaja di Kelurahan Sindang Barang Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
42.  Putri, D. E., Keliat, B. A., & Nasution, Y. (2010). Pengaruh Rational Emotive Behaviour Therapy terhadap klien dengan perilaku kekerasan di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
43.  Renidayati, Keliat, B. A., & Sabri, L. (2007). Pengaruh social skills training pada klien isolasi sosial di Rumah Sakit Jiwa ProfHB Saanin Padang. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
44.  Restiana, N., Keliat, B. A., Gayatri, D. & Helena, N. C. D. (2010). Pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap kemampuan ibu dalam menstimulasi rasa percaya bayi di Kelurahan Mulyasari Kota Tasikmalaya. Depok: Universitas Indonwsia, Tesis tidak dipublikasi.
45.  Sari, H., Keliat, B. A., & Mustikasari. (2009). Pengaruh family psychoeducation therapy terhadap beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien pasung di Kabupaten Bireuen Nanggroe Aceh Darussalam. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
46.  Sasmita, H., Keliat, B. A., & Budiharto. (2007). Efektifitas Cognitive Behaviour Therapy pada klien harga diri rendah di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
47.  Sharrock, J., & Happell, B. (2002). The psychiatric consultation-liaison nurse: Thriving in a general hospital setting. International Journal of Mental Health Nursing, Vol 11, Issue 1, Pages 24 – 33.
48.  Sitorus, R. (2006). Model praktik keperawatan professional di rumah sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
49.  Sitorus, R., Hamid, A. Y., Azwar, A., Achadi, A. (2012). The effect of implementing professional nursing practice model in the hospital. Journal of Education and Practice. 3 (15): 106-110.
50.  Syarniah., Keliat, B. A., Hastono, S. P., & Helena, N. C. D. (2010). Pengaruh terapi kelompok reminiscence terhadap depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
51.  Spiegel, D. & Giese-Davis, J. (2003). Depression and cancer: mechanisms and disease progression. Society of Biological Psychiatry. 54:269-282
52.  Sudiatmika, I. K., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2011). Efektivitas cognitive behaviour therapy dan rational emotive behaviour therapy terhadap klien dengan perilaku kekerasan dan halusinasi di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
53.  Sunarto, M., Keliat, B. A., & Pujasari, H. (2011). Pengaruh terapi kelompok terapeutik anak sekolah pada anak, orangtua, guru terhadap perkembangan mental anak di Kelurahan Pancoranmas dan Depok Jaya. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
54.  Supriati, L., Keliat, B. A., & Nuraini, T. (2010). Pengaruh terapi thought stopping dan progressive muscle relaxation terhadap ansietas pada klien dengan gangguan fisik di RSUD Dr. Soedono Madiun. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
55.  Supriyanto. (2003). Hubungan antara karakteristik keluarga klien terhadap persepsi mutu pelayanan Rumah Sakit di ruangan rawat inap Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) Srikandi RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Jakarta: Universitas Respati Indonesia, Tesis tidak diterbitkan.
56.  Susmiatin, E. A., Keliat, B. A., Hastono, S. P., & Susanti, H. (2010). Pengaruh Terapi Kelompok Terapeutik terhadap Kemampuan Adaptasi dan Memberikan Stimulasi Janin pada Ibu Hamil di Kelurahan Balumbang Jaya Kecamatan Bogor Kota Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak diterbitkan.
57.  Sutejo, Keliat, B. A., & Hastono, S. P. (2009). Pengaruh logoterapi kelompok terhadap ansietas pada penduduk pasca gempa di Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
58.  Thong, D. (2011). Prof. DR. Dr. R. Kusumanto Setyonegoro, SpKJ “Bapak Psikiatri Indonesia”: Memanusiakan manusia menata jiwa membangun bangsa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
59.  Tobing, D., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2012). Pengaruh progressive muscle relaxation dan logoterapi terhadap Ansietas dan Depresi, kemampuan Relaksasi dan kemampuan Memaknai Hidup Klien Kanker di RS Kanker Dharmais, Jakarta. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
60.  Trihadi, D., Keliat, B. A., & Hastono, S. P. (2009). Pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap kemampuan keluarga dalam memberikan stimulasi perkembangan dini usia kanak-kanak di kelurahan Bubulak Kota Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
61.  Utami, T. W., Keliat, B. A., & Gayatri (2008). Pengaruh self help group terhadap kemampuankeluarga dalam merawat kliengangguan jiwa di kelurahan Sindangbarang Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
62.  Wahyuni, S., Keliat, B. A., & Budiharto. (2007). Pengaruh logoterapi terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku pada lansia dengan harga diri rendah di Panti Wredha Pekanbaru Riau. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
63.  Wahyuni, S. E., Keliat, B. A., & Nasution, Y.  (2010). Pengaruh cognitive behaviour therapy terhadap halusinasi klien di Rumah Sakit Jiwa Pempropsu Medan. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
64.  Wahyuningsih, D., Keliat, B. A., & Hastono, S. P. (2009). Pengaruh Assertiveness Training terhadap perilaku kekerasan pada klien Skizoprenia. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
65.  Wardani, N. S., Keliat, B. A., & Nuraini, T. (2011). Pengaruh assertive training therapy terhadap kemampuan asertif dan persepsi istri terhadap suami dengan risiko kekerasan dalam rumah tangga Di Kota Bogor. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi
66.  Wardaningsih, S., Keliat, B. A., & Helena, C.D. (2008). Penurunan beban dan peningkatan kemampuan merawat keluarga dengan klien halusinasi. Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 12, No. 3, November 2008.
67.  WHO. (2012). Depression a global crisis. World Mental Health Day. October 10 2012. www.wfmh.org/2012 Des/WHM day %2012% 20 small%file%20 FINAL.pdg. Diperoleh 17 Januari 2013
68.  Walter., Keliat, B. A., Hastono, S. P., & Susanti, H. (2010). Pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap perkembangan industri anak usia sekolah di Panti Sosial Asuhan Anak Kota Bandung. Depok:Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi.
69.  Wheeler, E., & Keliat, B. A. (2007). Program perawatan kesehatan jiwa komunitas (CMHN) propinsi Aceh Indonesia. Banda Aceh: Laporan ADB-ETESP
70.  WHO (2001). The World Health Report 2001, Mental health: New understanding, new hope. Geneva: WHO
71.  Wilson, K. G., et al. (2007). Depression and anxiety disorders in palliative cancer care. Journal of Pain and Symptom Management. 33: 118-129
72.  Yunitri, N., Keliat, B. A., & Hastono, S. P. (2012). Pengaruh terapi kelompok suportif ekspresif terhadap dan kemampuan mengatasi depresi pada klien kanker. Depok: Universitas Indonesia, Tesis tidak dipublikasi

                   7. UCAPAN TERIMA KASIH
Para hadirin yang saya hormati, perkenankanlah saya memanjatkan puji syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberkati, melindungi, memberikan ilmu, memberi kesempatan berkarya, menyertai dalam suka dan duka yang selalu berakhir dengan keindahan dan sukacita. Semua perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan padaku (Fil. 4:13).

Pencapaian menjadi Guru Besar ini saya sadari berkat dukungan berbagai pihak baik pimpinan,  keluarga, sahabat, rekan kerja, dan pihak lain yang terkait. Untuk itu dalam kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah Saya mengucapkan  terima kasih kepada Ketua Tim Review FIK UI Prof. Dra. Elly Nurachmah, beserta seluruh anggota yang telah dengan teliti menelaah berkas-berkas pengusulan Guru Besar saya dan menyetujui pengusulan tersebut ke Tingkat Universitas Indonesia. Dukungan Dekan FIK UI Dewi Irawaty, MA, PhD beserta segenap pimpinan FIK UI dalam proses pengusulan ke tingkat UI merupakan,  suatu kebahagian yang tidak ternilai.

Dengan penuh hormat, saya ucapkan terima kasih kepada Dewan Guru Besar Universitas Indonesia yang menyetujui pengusulan saya menjadi Guru Besar dalam Ilmu Keperawatan. Selanjutnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Sumantri atas kebijakannya menyetujui dan mengusulkan Guru Besar saya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.

Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk mengemban jabatan Guru Besar tetap pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Perkenankan saya sekali lagi pada hari ini mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Indonesia, pimpinan Universitas Indonesia, Ketua dan anggota Guru Besar Universitas Indonesia yang telah mengukuhkan saya sebagai Guru Besar dan berkenan menerima saya dalam lingkungan akademik yang terhormat. Kiranya saya dapat berkontribusi, bertanggung jawab dan bermanfaat dalam mengharumkan nama almamater Universitas Indonesia.

Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Ketua Kelompok Keilmuan Keperawatan jiwa Yossie  Susanti Eka Putri, SKp, MN yang luar biasa dan semua teman sejawat dosen kelompok keilmuan keperawatan jiwa dan komunitas yang lebih dikenal dengan JIKOM yang selalu memberi semangat, saya tidak akan melupakannya. Demikian pula seluruh civitas akademik FIK UI yang telah saya anggap keluarga kedua saya selama 28 tahun, sejak saya menjadi mahasiswa angkatan pertama di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan akhirnya menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan. Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan FIKUI selama saya menjadi dosen: Prof Achir Yani S. Hamid, DNSc, Tien Gartinah, MN, Prof Dr Azrul Azwar, dr. MPH, Prof Drs Elly Nurachmah, SKp, MAppSc, DNSc dan Dewi Irawaty, MA, PhD, yang telah memberi kesempatan kepada saya menjalankan tugas belajar di Sydney University dan Fakultas Kesehatan Masyarakat, membimbing dan mendukung dalam pengembangan keperawatan jiwa di Indonesia sampai saya boleh berdiri di tempat ini saat ini.

Banyak yang telah berjasa dalam menempa saya menjadi Perawat Jiwa, Guru saya yang tidak akan pernah terlupakan Ibu Alm. Magdalena Mahdi, MSc, BA (Perawat Jiwa Lulusan Master Pertama dari Amerika), beliau mendorong, membimbing, memberi semangat dan mengenalkan keperawatan jiwa tanpa lelah kepada saya. Ibu Sariana Anwar, perawat senior di RSJP Bogor yang senantiasa mendukung dan menginspirasi pengembangan pelayanan keperawatan jiwa. Tidak kalah pentingnya terima kasih kepada teman-temanku di Rumah Sakit Jiwa Bogor (sekarang RS Marzoeki Mahdi) dan kelompok keilmuan keperawatan jiwa FIK UI: H. Supriyanto, SPd, MKes, Akemat, SKp, MKes, Novy Helena, C. D. SKp, MSc, Herni Susanti, SKp, MN, Ria Utami Panjaitan, SKp, MKep, Ns. Ice Yulia Wardani, SKp, M.Kep, SpKepJ, Dr. Mustikasari, SKp, MARS, Ns.Puji Hartini, SKep, Ns. Djuriah, SKep, Ns. Wiwi Winarsih, Ns. Desnelly, SKep, Ns. Fauziah, SKp, MKep, SpKepJ, kita belajar dan mencoba bersama dalam cita menperbaiki keperawatan, kita berhasil sahabat mewujudkan MPKP dan PICU, mari terus berjuang memberi makna  keperawatan jiwa bagi klien gangguan jiwa yang terlupakan.  

Kejadian tsunami menyatukan kita sahabat, para fasilitator CMHN yang terdiri dari perawat jiwa dari RSJ maupun dosen keperawatan jiwa di Jakarta-Bogor, bersehati mengembangkan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, terima kasih “pahlawanku” yang tanpa lelah menelusuri tanah rencong memberikan yang terbaik pada masyarakat dan menjadikan Aceh sebagai model CMHN di Indonesia yang dihargai oleh Gubernur Aceh melalui surat penghargaan.

Mereka yang luar biasa adalah Akemat, SKep, MKes, Novy Helena, C. D., SKp, MSc, Heni Nuraeni, SKp, Ria Utami Panjaitan, SKp, MKep, Ns. Atih Rahayuningsih, SKp, MKep, SpKepJ, Sumiati, SKp, MPsi, Pipin Farida, SKp, MKes, Ns. Ice Yulia Wardani, SKp, MKep, SpKepJ, Yossie Susanti, E. P., SKp, MN, Dr. Mustikasari, SKp, MARS, Indriana Rahmawati, SKp, MSi, Widyalolita, SKp, MKes, M. Arsyat Subu, SKp, MN, Dinarti, SKp, MAP, Herni Susanti, SKp, MN, dr. Yusni K. Solichin, SpKJ, Rukiah Siregar, SKp, MAP, Made Riasmini, SKp, MKep, Sp.Kom, Ns.Pudji Hartini, SKep, Ns. Tantri Widyarti Utami, SKep, MKep, SpKepJ, Ns. Rosintan Simatupang, SKep, dr. Albert Maramis, SpKJ, banyak rekan-rekan lain yang sangat mendukung pelaksanaan CMHN yaitu fasilitator propinsi dan kabupaten/kota, seluruh perawat CMHN Indonesia, kader kesehatan jiwa yang luar biasa, klien dan keluarganya serta seluruh masyarakat Indonesia.

Dukungan luar biasa dari Kementerian Kesehatan khususnya Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, WHO Indonesia, ADB ETESP, HSP USAID, CBM Indonesia dan berbagai pihak telah mendorong kontribusi keperawatan jiwa dalam meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia, terimakasih jasanya demi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia tercinta.

Prof. Dr. Azrul Azwar, dr., MPH (dekan saat saya sekolah doctor dan sekaligus promotor saya) dan Bapak Adang Bachtiar, dr., MPH, ScD (ko-promotor saya) yang menjadi tokoh  dan contoh peran yang telah membimbing dengan hati tanpa pamrih, tanpa batas waktu, tidak cukup kata-kata untuk mengatakan terima kasih, bahkan sampai sekarang beliau tetap menjadi pembimbingku dan guruku. Terima kasih “Guruku”.         

Guru-Guruku dan Teman-temanku selama sekolah yang membuat kenangan belajar dan hidup menjadi tidak terlupakan baik saat sekolah rakyat, SMP, SMA, S1 di PSIK FKUI, S2 di Australia bersama Dr. Ratna Sitorus, SKp, MAppSc, Prof Drs. Elly Nurachmah, SKp, MAppSc, Jane Freyana, SKp, MAppSc, dan Krisna Yetty, SKp, MAppSc dan S3 bersama Dr. dr. Fachmi Idris, MKes dan Dr. dr. Hariadi, MSc.

Terima kasih kepada adikku Mulya Perangin-angin yang memfasilitasi berbagi ilmu dan pengalaman kepada masyarakat  di desa dan kampung khususnya Tanah Karo, mereka yang sangat lugu, polos dan bersemangat memperbaiki kehidupan. Demikian pula terima kasih kepada Alm Bapak Darma (Direktur penerbit EGC), yang telah berjasa mendorong saya menulis buku dan diteruskan oleh Ibu Imelda Darma , Ibu Ester Diana yang senantiasa memfasilitasi penyebaran ilmu keperawatan jiwa melalui penerbitan buku kami.

Terima kasih kepada teman sekerjaku, khususnya lulusan spesialis keperawatan jiwa yang telah tersebar diseluruh nusantara, yang telah memiliki kemampuan mengembangkan keperawatan jiwa di rumah sakit jiwa, rumah sakit umum dan masyarakat, tunjukkan karya kalian untuk bangsa dan negara dalam mewujudkan Indonesia sehat jiwa.

Rasa hormat dan terima kasih kepada Ayahku Alm Paulus P. Keliat dan Ibuku Iting Ginting Suka yang menjadi teladan dalam bekerja tanpa lelah, disiplin, dan mewariskan tekad belajar seumur hidup bukan untuk mengumpulkan harta, memberi perhatian kepada rakyat jelata yang mereka tunjukkan dengan menampung “tukang beca” tinggal dikompleks rumahnya dengan biaya minimal. Demikian pula dengan Ayah mertua Alm Beteh Kembaren dan Ibu mertua Sanggep Perangin-angin yang selalu mendukung pengembangan diri, khususnya bersedia berkorban menemani cucunya saat ibunya (saya sendiri) melanjutkan sekolah ke luar negeri. Terimalah persembahanku melalui pencapaian Guru Besar ini sebagai rasa terima kasih yang tidak sebanding dengan semua yang telah mereka berikan.

Suamiku tercinta Drs Kembarayu Kembaren, yang mendukung secara total dalam proses pengembangan diriku, bersedia ditinggalkan berhari-hari tanpa protes, sejujurnya pencapaian ini pasti tidak mungkin tanpa dukungannya, dialah sumber semangat yang kadang kala menurun, pemberi jalan keluar yang bijaksana disaat putus asa seakan tidak ada jalan keluar, terima kasih suamiku.

Sebenarnya semua yang  saya lakukan didalam hidup ini bukan semata-mata untuk sukses secara pribadi, tetapi memberi contoh perjuangan hidup dalam menjalani suka dan duka khususnya kepada anak-anakku dan menantuku yang sangat saya sayangi dr. Lahargo Kembaren, SpKj/Indri Julianti Keliat, SE, Julbintor Kembaren, SKom, MM/Chicha Wisina, SPsi dan Tribella Kembaren, SP/Ulrich Eriki Ginting, DVM, MM. Mama sangat menyayangi kalian semua, kita bersama menjalani hidup ini dan jangan lupa bersyukur atas kebaikan Tuhan yang membuat kita ada seperti kita ada saat ini.

Cucu-cucuku tercinta Jesarin Beatrice Kembaren, Timothy Eriel Ginting, Kimberly Angelina Kembaren, Voofhea Chiara Kembaren, Renate Callysta Ginting dan Reigoves Kembaren. Tiada rasa lelah saat berjumpa, tidak ada kesedihan melihat canda kalian, sukacita dan gembira melihat kalian tumbuh dan berkembang.

Adik-adikku yang kucintai Perwira, P. Keliat/Anita Fijiyanti Surbakti, Ir. Sri Deli Keliat/Drs. Ujian Sinulingga, MSi, Harmoni Keliat/Erwina Ginting, S.E., terima kasih dukungan, kebersamaan dalam menghadapi kehidupan yang membuatnya indah dan menyenangkan. Demikian pula adik-adik iparku yang saya kasihi Alm Lusin Kembaren/Anita Perangin-angin, Ukurmuli Kembaren/Ngatorsa Surbakti, dan Veto Kembaren/Riahta Perangin-angin yang senantiasa membuat hidup ini jadi bermakna.

Dan akhirnya saya bangga dan berterima kasih kepada sahabat – sahabat yang membantu penyusunan pidato ini baik langsung maupun tidak langsung, khususnya kepada Akemat, SKp, M.Kep, Ns. Made Riasmini, SKp, MKep, Sp.Kom, Ns. Ice Yulia Wardani, SKp, MKep, SpKepJ, Novy Helena, SKp, MSc, Ns. Fauziah, SKp, MKep, SpKepJ, Ns. Carolina, SKp, MKep, SpKepJ, Ratih, dan semua sahabat dalam panitia pengukuhan yang dipimpin oleh Allendekania, SKp, MN dengan sepenuh hati mempersiapkan proses pengukuhan ini dengan baik. Tanpa sahabat semua tentu mustahil proses pengukuhan ini dapat berlangsung.

Akhirnya, mari kita gunakan seluruh kesempatan yang masih ada untuk berguna bagi semua orang sampai kita dipanggil oleh Bapa di Sorga yang selalu memberi kekuatan dan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, muzijatMu selalu terjadi dalam hidupku, aku kuat karena Engkau menguatkan. Ampuni aku Tuhan atas semua kealpaanku. Amiin






                  8.  DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A.    Data Pribadi
Nama                              : Budi Anna Keliat                                           
NIP                                  : 19520405 197412 2 001
Jabatan                            : Guru Besar
Golongan/Pangkat           : IV C / Pembina Utama Muda
Tempat/Tanggal Lahir     : Kuta Buluh, 5 April 1952
Suami                              : Pt. Em. Drs. Kembarayu Kembaren
Anak/Menantu                : 1. dr. Lahargo Kembaren, SpKJ/Indri Julianti Keliat, SE
                                           2. Julbintor Kembaren, SKom, MM/Chicha Wisina, SPsi
                                           3. Tribella Kembaren, SP/Ulrich Eriki Ginting, DVM, MM
Cucu                                : 1. Jesarin Beatrice Kembaren
                                           2. Timothy Eriel Ginting
                                           3. Kimberly Angelina Kembaren
                                           4. Voofhea Chiara Kembaren
                                           5. Renate Callysta Ginting
                                           6. Reigoves Kembaren
Orang Tua                       : Ayah (Alm) Paulus. P. Keliat
                                           Ibu (Alm) Iting Ginting Suka
Mertua                             : Bapak (Alm) Beteh Kembaren
                                           Ibu (Alm) Sanggep Perangin – angin
Alamat Rumah                : Jl. Pendidikan 3 No 14, RT001/RW01, Bagunde, Bogor 16151
Alamat Kantor                : Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa, Fakultas Ilmu       Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus Baru, Depok 16424

B.       Pendidikan Formal
1959 – 1964        : Sekolah Rakyat Negeri 52, Medan
1964 – 1967        : Sekolah Menengah Pertama Nasrani Bersubsidi Medan
1967 – 1970        : Sekolah Menengah Atas Nasrani Bersubsidi Medan
1970 – 1974        : Akademi Keperawatan DepKes RI, Jl. Kimia, Jakarta
1985 – 1988        r: S1 Keperawatan: Program Studi Ilmu Keperawatan FKUI,   Jakarta
1988  – 1990       : S2 Keperawatan: School of Nursing, Sydney University, Australia
1988 – 1990        : Registered Nurse New South Wales, Sydney Australia
1998 – 2003        : S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat: Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan   judul disertasi: Pemberdayaan klien dan keluarga dalam merawat klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan.


C. Riwayat Kepegawaian
1974      : CAPEG Pengatur Muda TK I, Gol IIB/Pelaksana Perawatan Depkes
1975      :         Pengatur Muda TK I/ Gol II B/Pelaksana Perawatan DepKes di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta
1979      : Pengatur/Gol II C/Pelaksana Perawatan DepKes di RS Jiwa Pusat Bogor
1983      : Pengatur TK I/Gol II D/Pelaksana Perawatan DepKes di RS Jiwa Pusat Bogor
1987      : Penata Muda/Gol III A/Pelaksana Perawatan DepKes di RS Jiwa Pusat Bogor
1991      :         Penata Muda TK I/Gol III B/Tenaga Pengajar FIK UI
1992      :         Asisten Ahli - Penata Muda TK I/Gol III B/Tenaga Pengajar FIK UI
1994      :         Lektor Muda - Penata Muda TK I/Gol III B/Tenaga Pengajar FIK UI
1996      :         Lektor Madya - Penata/Gol III C/Tenaga Pengajar FIK UI
1998      :         Lektor - Penata TK I/Gol III D/Tenaga Pengajar FIK UI
1999      :         Lektor Kepala - Pembina/Gol IV A/Tenaga Pengajar FIK UI
2001      :         Lektor Kepala - Pembina TK I/Gol IV B/Tenaga Pengajar FIK UI
2012      :         Guru Besar - Pembina Utama Madya/Gol IV C/Tenaga Pengajar FIK UI

D. Riwayat Pekerjaan
1974 – 1975             : Perawat Ruangan Bedah di RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
1975  – 1990            : Perawat Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Pusat, Bogor
1990  – sekarang      : Dosen/Pengajar di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
1989 – 1990             : RN in Concord Hospital, Sydney, Australia
2002 – 2004             :  Penugasan oleh Dekan FIK UI sebagai Direktur STIKES Binawan Jakarta
2009 – sekarang       : Dosen Inti Penelitian Fakultas Ilmu Keperawatn Universitas Indonesia
2009 – sekarang       : Reviewer Penelitian DIKTI
2010 – sekarang       : Asesor BAN PT KemNas
2012 – sekarang       : Reviewer SERDOS

E. Penulis Buku
1.        Keliat, B.A. (1991). Komunikasi terapeutik bagi perawat. Jakarta: Penerbit ARCAN.
2.        Keliat, B.A. (1991). Proses keperawatan. Jakarta: Penerbit ARCAN.
3.        Keliat, B.A. (1991). Tingkah laku bunuh diri. Jakarta: Penerbit ARCAN.
4.        Keliat, B.A. (1991). Kedaruratan pada ganguan alam perasaan. Jakarta: Penerbit ARCAN.
5.        Keliat, B.A., Sinaga, C.Th. (1992). Marah akibat penyakit yang diderita. Jakarta: Penerbit ARCAN.
6.        Keliat, B.A. (1992). Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku   Kedokteran, EGC.
7.        Keliat, B.A. (1992). Gangguan konsep diri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
8.        Keliat, B.A. (1993). Gangguan kognitif. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
9.        Keliat, B.A. (1997). Penatalaksanaan stress. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
10.    Keliat, B.A. (1997). Gangguan koping, citra tubuh, dan seksual pada klien kanker. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC
11.    Keliat, B.A., Akemat. (2004). Keperawatan jiwa: Terapi aktivitas kelompok. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
12.    Keliat, B.A., Panjaitan, R.U., Helena, N.C.D. (2005). Proses keperawatan kesehatan jiwa. (ed. 2). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
13.    Keliat, B.A., Akemat. (2007). Model praktik keperawatan professional jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
14.    Keliat, B.A., Akemat., Helena, N.C.D., Nurhaeni, H. (2007). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: CMHN (Basic course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
15.    Keliat, B.A., Helena, N.C.D., Farida, P. (2007). Keperawatan psikososial & Kader kesehatan jiwa: CMHN (Intermediate course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
16.    Keliat, B.A., Panjaitan, R.U., Riasmini, M. (2007). Manajemnen keperawatan jiwa komunitas desa siaga: CMHN (Intermediate course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
17.    Keliat, B.A., Wiyono, A.P., Susanti, H. (2007). Manajemen kasus gangguan jiwa: CMHN (Intermediate course). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
18.    Sugiharto, A.S, Keliat, B.A, Sri, R.T.H. (2009). Manajemen keperawatan: Aplikasi MPKP di rumah sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
19.    Barbato, A., Vallarino, M. (2010). Community mental health in low income countries a way forward. Italia Milan: Mario Negri. (Penulis satu bab: Community mental health nursing (CMHN) in Indonesia)
20.    Department of Mental Health and Substance Abuse World Health Organization. (2011). mhGAP Intervention Guide: for mental, neurological and substance use disorders in non-specialized health settings. Geneva Switzerland: WHO (sebagai International expert for review)

F. Penulis Artikel pada Journal Nasional
1.        Keliat, B. A. (1997). Perspektif keperawatan kesehatan jiwa di masa depan. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 1, No. 2, Juli
2.        Mulyati, S., & Keliat, B.A. (1997). Pola penyelesaian masalah belajar mahasiswa fakultas ilmu keperawatan universitas Indonesia. Journal Keperawatan Indonesia, volume 1, No. 1, Januari.
3.        Keliat, B. A., Panjaitan, R. U., Mustikasari. & Helena, N. C. D. (1999). Pengaruh model terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) terhadap kemampuan komunikasi verbal dan non verbal pada klien menarik diri di rumah sakit jiwa. Journal Keperawatan Indonesia, volume 2, No.8, Desember.
4.        Wardani, I. Y., Keliat, B. A., & Mustikasari. (2003). Karakteristik klien yang dirawat di ruang model praktek keperawatan professional rumah sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Makara Kesehatan, volume 7, No. 1, Juni.
5.        Keliat, B. A., Mustikasari,. Panjaitan, R. U. (2003). Gambaran klien perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa Bogor dan rumah sakit jiwa Jakarta. Journal Keperawatan Indonesia, Volume 7, No. 2, September.
6.        Widyatuti., Keliat, B. A., Budiharto. (2007). Karakteristik individu yang berhubungan dengan perilaku kekerasan pada siswa sekolah lanjutan atas di Jakarta Timur. Journal Keperawatan Indonesia, Volume 7, No. 2, September.
7.        Sulastri, Keliat, B. A., & Eryando, Tris. (2008). Kinerja perawat community mental health nursing (CMHN) berdasarkan factor pengorganisasian CMHN. Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 12, No. 3, November 2008.
8.        Wardaningsih, S., Keliat, B. A., & Helena, C. D. (2008). Penurunan beban dan peningkatan kemampuan merawat keluarga dengan klien halusinasi. Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 12, No. 3, November 2008.
9.        Bahari, K., Keliat, B. A., Gayatri, D. & Helena, N. C. D. ( 2010). Pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap perkembangan identitas remaja di kota Malang. Journal Kesehatan (The Journal of Health), Vol. 8, No. 2, November.
10.    Istiana, D., Keliat, B. A., & Nuraini, T. (2011). Terapi kelompok terapeutik anak sekolah pada anak-orangtua dan anak-guru meningkatkan perkembangan mental anak usia sekolah. Jurnal Ners, Volume 6, Nomor 1, April 2011
11.    Rochdiat, W., Keliat, B.A., & Wardani, I.Y. (2012). Efektifitas terapi kognitif dan logoterapi dalam asuhan keperawatan klien harga diri rendah situasional dan ketidakberdayaan melalui pendekatan konsep stres adaptasi Stuart di RSUP Persahabatan, Jakarta. Publikasi Artikel di Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Volume 1, Nomor 6, Juni.
12.    Surtiningrum, A., Keliat, B.A., & Mustikasari. (2012). Efektifitas terapi spesialis pada klien gangguan fisik yang mengalami ansietas dan gangguan citra tubuh di RSUP Persahabatan, Jakarta. Publikasi Artikel di Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Volume 1, Nomor 6, Juni.

G. Penulis Artikel pada Journal Internasional
1.      Prasetyawan., Viora, E., Maramis, A., Keliat, B. A. (2006). Mental health model of care programmes after tsunami in Aceh, Indonesia. International Review of Psychiatric, December 2006; 18 (6): 559-562.
2.      Keliat, B. A., Azwar, A., Bachtiar, A., Hamid, A. Y. S. (2009). Influence of the abilities in controlling violence behavior to the length of stay of schizophrenic client in Bogor mental hospital, Indonesia. Medical Journal  Indonesia, Vol. 8, No. 1, January-March.

H. Peneliti
1.      Peneliti Utama: Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) terhadap kemampuan komunikasi verbal dan non verbal pada klien menarik diri di rumah sakit jiwa. Dana Risbinkes, Litbang Departemen Kesehatan RI (1997).
2.      Peneliti Utama: Efektifitas Penerapan Model Community Mental Health
Nursing Terhadap Kemampuan Hidup Klien Gangguan Jiwa dan Keluarganya di Wilayah DKI Jakarta. Dana Hibah Riset Unggulan Utama UI (2010-2011)
3.      Peneliti Utama: Efektifitas Promosi Kesehatan Terhadap Keselamatan Komunitas (Community Safety) Anak dan Remaja Di Kota Depok. Dana Hibah Kluster UI (2010-2011).
4.      Peneliti Utama: Analisis Kemampuan Tinggal Di Masyarakat Pada Klien Skizofrenia Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Sepulau Jawa  . Dana Hibah Riset Kolaborasi UI (2010-2011).
5.      Anggota Peneliti: Background information survey for the skill improvement program for international nurses and care worker. Dana Riset JICA (2011)
6.      Peneliti Utama: Efektifitas terapi kelompok terapeutik anak sekolah, guru dan orangtua terhadap perkembangan mental anak sekolah. Dana Hibah Riset Pasca Sarjana UI (2011-2012).

I.       HAKI
1.      Penulis Pertama Karya Tulis: Terapi aktivitas kelompok (TAK) dalam bentuk kartu, No. 048003, MENHUKHAM RI, 29 Juli 2010.
2.      Penulis Pertama Karya Tulis: Latihan perilaku asertif dalam mencegah bullying pada remaja, No. C00201104710, 15 Desember 2011, KEMHUKHAM
3.      Penulis Pertama Karya Tulis: Latihan pertahanan diri terhadap stress pada remaja, No. C00201104709, 15 Desember 2011, KEMHUKHAM
4.      Penulis Kedua Karya Tulis: Aman di jalan, aman di sekolah, nyaman kembali ke rumah, No. C002011044707,   15 Desember 2011, KEMHUKHAM
5.      Penulis Kedua Karya Tulis: Pencegahan dan penanganan cedera pada anak balita, No. C00201104711,   15 Desember 2011, KEMHUKHAM  
               
J. Temu Ilmiah Nasional Tiga Tahun Terakhir (2009 – 2012)
1.        Pembicara, Community mental health nursing, Program Kesehatan Jiwa oleh Direktorat Bina Pelayanan Medik DepKes, 14 Mei 2009, Bandung
2.        Pembicara, Holistik nursing approach in nursing care delivery, pada Seminar Nasional Keperawatan oleh STIKES Graha Edukasi Makasar, 16 Mei 2009
3.        Pembicara, Lesson learned keperawatan jiwa dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan kesehatan jiwa, pada Pertemuan DirBinKeswa, DepKes, 18 Mei 2009
4.        Pembicara, Antisipasi dan dukungan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa,  pada seminar Sehari Perawat oleh PPNI Jambi, 24 Mei 2009
5.        Pembicara, Komunikasi efektif dalam pembelajaran klinik keperawatan, pada Pelatihan Pembimbing Klinik RS Immanuel Bandung, 5 Juni 2009
6.        Pembicara, Asuhan keperawatan jiwa, pada Pelatihan Perawat RSJ HB Saanin Padang, 6 Agustus 2009, Padang
7.        Pembicara, Model praktik keperawatan professional jiwa, pada Pelatihan Perawat RSK Pontianak, 11 Agustus 2009, Pontianak
8.        Pembicara, Komunikasi terapeutik dan caring, pada Pertemuan Perawat RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, 10 September 2009, Jakarta
9.        Pembicara, Komunikasi pada klien kaki diabetic, pada Pelatihan Penatalaksanaan Kaki Diabetes secara Holistik di RS Cipto Mangunkusumo, 8 Oktober 2009, Jakarta
10.    Pembicara, Trend an isu pelayanan keperawatan jiwa, pada Seminar Keperawatan RSJ Grhasia Yogyakarta, 25 Oktober 2009, Yokyakarta
11.    Pembicara, Manajemen mutu pelayanan keperawatan, pada Pelatihan Mutu Pelayanan Keperawatan di RSKO, 30 Oktober 2009, Jakarta
12.    Pembicara, Perilaku caring perawat, pada Seminar Keperawatan di RS Karya Bakhti Bogor, 31 Oktober 2009, Bogor
13.    Peserta, Pelatihan penulisan artikel, pada Pelatihan oleh DRPM UI, 4 November 2009, Jakarta
14.    Peserta, Pelatihan reviewer penelitian, pengabdian masyarakat, program kreativitas mahasiswa, oleh DIKTI KemDikNas, 4 November 2009
15.    Peserta, Pelatihan E-Journal dan Latex, pada Pelatihan DRPM UI, 18 Nopember 2009, Depok
16.    Pembicara, Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Pelatihan Perawat Kesehatan Jiwa dari PUSKESMAS di Dinas Kesehatan DKI Jakarta, 19 November 2009, Jakarta
17.    Pembicara, Consultation liaison mental health nursing (CLMHN) pada pelayanan umum, pada Seminar CLMHN di PSIK Universitas Brawijaya Malang, 21 November 2009, Malang
18.    Pembicara, Inovasi Pelayanan Kesehatan Jiwa Melalui Lintas Program dan Lintas Sektoral secara Komprehensif dan Terpadu pada KONAS VI Keperawatan Jiwa di Aceh, 10 Desember 2009, Banda Aceh
19.    Pembicara, Asuhan keperawatan jiwa pada disaster, pada Seminar Nasional Keperawatan Jiwa “First Aid and Rehabilitation of Mental Health Nursing Problem after Disaster”, 23 Jan 2010, FIK UI Depok
20.    Pembicara, Service excellence pada asuhan keperawatan, pada Seminar Keperawatan “Transforming Service Excellent Into Care Excellent oleh PPNI Kota Bekasi, 8 Februari 2010, Bekasi
21.    Pembicara, Pelayanan dan keperawatan kesehatan jiwa paska konflik, pada Pelatihan Pasca Konflik Poso oleh Dinas Kesehatan Prop SULTENG, 16 April 2010, Poso
22.    Pembicara, Patient safety di ruang psikiatri, pada Pelatihan Patient Safety Ruangan Psikiatri RS Cipto Mangunkusumo, 20 April 2010, Jakarta
23.    Peserta, Pertemuan peningkatan peran TP-KJM, oleh Dir Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, BUK, Kem Kesehatan RI, 12 April, Bandung
24.    Pembicara, Asuhan keperawatan jiwa anak dan remaja, pada Pelatihan Perawat di Ruang Anak dan Remaja RS Soeharto Herjan Jakarta, 7 Mei 2010, Jakarta
25.    Nara sumber, Roadmap pengembangan sistem keperawatan professional: Refleksi dan arah masa depan, pada pertemuan Nasional PPNI Pusat, 9 Mei 2010, Jakarta
26.    Pembicara, Evaluasi dan rencana tindak lanjut pelayanan kesehatan jiwa masyarakat, pada Pertemuan Evaluasi Program Keswamas Dina Kesehatan Kota Bogor, 12 Mei 2010, Bogor
27.    Nara sumber, Terapi aktivitas kelompok, pada Presentasi Ilmiah Wednesday Session Departemen Psikiatri RS Cipto Mangunkusumo, 12 mei 2010, Jakarta
28.    Pembicara, Keperawatan kedaruratan psikiatri, pada Pelatihan PICU RS Adam Malik, 15 Mei 2010, Medan
29.    Pembicara, Evaluasi keperawatan kesehatan jiwa di Aceh, pada Pertemuan Advokasi Kesehatan Jiwa Propinsi Aceh, 27 Mei 2010, Banda Aceh
30.    Pembicara, Dampak psikososial pada perawat critical care, pad The 12th Indonesian Critical Care Nurses, 10 juni 2010, Jakarta
31.    Pembicara, Model praktik keperawatan profesional jiwa, pada Pelatihan Manajemen Keperawatan di RS Jiwa Radjiman Wediodiningrat, 3 Juli 2010, Malang
32.    Pembicara, Cardiovascular Nurses Leading to Innovation: Improving Quality of Cardiovascular Care, pada The 4th Annual Scientific Meeting Indonesian Cardiovascular Nurses Association, 9 Juli 2010, Jakarta
33.    Pembicara, Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Stadium Generale STIKU Kuningan, 17 Juli 2010, Kuningan
34.    Pembicara, Pengembangan model praktik keperawatan professional jiwa, pada Konvensi Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa, 29 Juli 2010, Bogor
35.    Pembicara, Pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat, pada Forum Komunikasi Kesehatan Jiwa tingkat Kota Jakarta Timur, 20 Agustus 2010, Jakarta
36.    Pembicara, Praktik mandiri perawat jiwa profesional, pada Temu Ilmiah ke 2 Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa FIK UI, 25 Agustus 2010, Depok
37.    Pembicara, Komunikasi terapeutik bagi perawat ICU, pada Pelatihan Keperawatan ICU Nasional di RS Cipto Mangunkusumo, 1 Oktober 2010, Jakarta
38.    Pembicara, Aspek caring dalam pelayanan keperawatan professional, pada Dies Natalis ke 41 Akper RS PGI Cikini, 6 Oktober 2010, Jakarta
39.    Pembicara, Desa siaga sehat jiwa, pada Sosialisasi Desa Siaga Sehat Jiwa di Bogor Timur, 19 Oktober 2010, Bogor
40.    Pembicara, Model praktik keperawatan profesional, pada Pelatihan Keperawatan Jiwa di Ruang Psikiatri RS Cipto Mangunkusumo, 25 Oktober 2010, Jakarta
41.    Pembicara, Pelayanan keperawatan holistik pada klien penyakit kronik, pada Seminar Keperawatan oleh Fakultas Keperawatan UNIKA Dela Salle, 3 November 2010, Manado
42.    Pembicara, Empowering keluarga sehat jiwa, pada Seminar Hari Kesehatan Nasional 2010 oleh Dina Kesehatan SULUT, 4 November 2010, Manado
43.    Pembicara, Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Seminar Keperawatan Jiwa oleh IPKJI Komisariat RSKD Ratumbuysang, 5 November 2010, Manado
44.    Pembicara, Menuju Masyarakat Sehat Mandiri melalui Keperawatan Jiwa Profesional dalam Pelayanan Jiwa Masyarakat, pada KONAS VII Keperawatan Jiwa di Bali, 11 November 2010, Denpasar
45.    Pembicara, Asuhan keperawatan jiwa efektif, pada Pelatihan Keperawatan Jiwa kerjasama STIKES Mataram dan IPKJI NTB, 14 November 2010, Mataram
46.    Pembicara, Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Pelatihan Perawat Puskesmas tentang Keperawatan Jiwa di SUDIN Kesehatan Jakarta Selatan, 15 November 2010, Jakarta
47.    Pembicara, Model praktik keperawatan profesional jiwa, pada Pelatihan Perawat Psikiatri di RS Hasan Sadikin, 23 November 2010, Bandung
48.    Pembicara pada National Conference of Safe School, Plan Indonesia in Collaboration with BNPB and UNESCO, 20 Desember 2010, Jakarta
49.    Pembicara, Model praktik keperawatan professional Jiwa, pada Pelatihan Perawat Psikiatri RS Cipto Mangunkusumo, 12 Januari 2011, Jakarta
50.    Pembicara, Komunikasi terapeutik di ICU, pada Pelatihan Keperawatan Intensive Nasional di RS Cipto Mangunkusumo, 9 Februari 2011, Jakarta
51.    Pembicara, Penerapan komunikasi terapeutik dalam asuhan keperawatan, pada Seminar Be A Positive Nurse STIK St Carollus, 12 Februari, Bekasi
52.    Pembicara, Pembentukan karakter perawat melalui komunikasi dan role model, pada Studium General, Akper Muhamadiyah, 5 Maret 2011, Kendal
53.    Pembicara, Desa siaga sehat jiwa, pada Pelatihan Kader kesehatan tentang Kesehatan jiwa oleh DirBinKeswa, BUK, KemKes, 5 April 2011, Jakarta
54.    Pembicara, Caregiver training bagi keluarga psikogeriatrik, pada Workshop Caregiver Training, Konas Assosiasi Psikogeriatrik Indonesia ke IV, 8 April 2011, Makasar
55.    Pembicara, Post traumatic Syndrome Disorder, pada Pelatihan Basic Burn Life Support, 12 Juni 2011, Jakarta
56.    Pembicara, Model praktik keperawatan profesional jiwa (MPKP-Jiwa), pada Pelatihan Perawat RS J Prof Soeroyo Magelang, 30 Juni 2011, Magelang
57.    Pembicara, National Seminar For Operating Room Nurses to Entering The Globalization Era; Updating Best Practice Through Innovation Intervention, To Be Competent Operating Roon Nurses, pada 10th Annual Scientific Meeting of Indonesian Operating Room Nurse, 1 Juli 2011, Jakarta
58.    Pembicara, Konsep keperawatan kesehatan jiwa masyrakat, pada pelatihan CMHN bagi perawat puskesmas, di Sudin Kesehatan Jakarta Selatan, 4 Juli 2011, Jakarta
59.    Pembicara, Model praktik keperawatan professional jiwa (MPKP-Jiwa), pada Seminar Nasional RS Islam Sultan Agung, 23 Juli 2011, Semarang
60.    Pembicara, Pemberdayaan keluarga klien gangguan jiwa, pada Sosialisasi Pemberdayaan Keluarga, di FIK UI, 15 september 2011, Depok
61.    Pembicara, Komunikasi terapeutik menuju patient safety, pada Seminar Keperawatan RS Ananda Bekasi, 26 September 2011, Bekasi
62.    Pembicara, Asuhan keperawatan kedaruratan psikiatri, pada Pelatihan Psychiatric Intensice Care Unit, di RSCM,  27 September 2011, Jakarta
63.    Pembicara, Keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Seminar Nasional Keperawatan Jiwa dalam mewujudkan masyarakat siaga sehat jiwa, 16 Oktober 2011, Mataram
64.    Pembicara, Penelitian keperawatan melalui multicenter research, pada Seminar Nasional Universitas Riau, 21 Oktober 2011, Pekanbaru
65.    Pembicara, Asuhan keperawatan psikososial: ansietas dan depresi, pada Pelatihan Consultant Liaison Mental Health Nursing di RSHS, 26 Oktober 2011, Bandung
66.    Pembicara, Desa siaga sehat jiwa dan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat, pada Sosialisasi community based unit, di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, 1 Nopember 2011, Jakarta
67.    Pembicara, Lesson Learned: Disaster management for psychosocial aspect on the phase of pre incident, impact, rescue, recovery and rehabilitation, pada KONAS VIII Keperawatan jiwa, 17.19 Nopember 2011, Bukit Tinggi
68.    Pembicara, Community mental health nursing, pada Pelatihan Perawat Puskesmas Dinas Kesehatan Kota Tarakan, 24 Nopember 2011, Tarakan
69.    Pembicara, Community mental health nursing, pada Pelatihan ACT dan CMHN di RSJ Provinsi, 5 Desember 2011, Mataram
70.    Pembicara, Asuhan keperawatan psikogeriatrik, pada Pelatihan Psikogeriatrik di RSJ Propinsi JABAR, 6 Desember 2011, Bandung
71.    Pembicara, Application of community mental health nursing in preventing mental and psychosocial problems, pada 1st National Conference, PSIK Universitas Jember, 11 Desember 2012, Jember
72.    Pembicara, Asuhan keperawatan psikososial: ansietas dan depresi, pada Pelatihan Consultant Liaison Mental Health Nursing di RSHS, 22 Desember 2011, Bandung
73.    Pembicara, Manajemen pelayanan dan asuhan keperawatan, pada Pelatihan Keperawatan, YPMK Perdhaki, 31 Januari 2012, Jakarta
74.    Pembicara, Desa siaga sehat jiwa, pada Pelatihan Peningkatan Pengetahuan Kader Kesehatan Jiwa, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, BUK Kemkes, 14 Februari 2012, Jakarta
75.    Pembicara, Asuhan keperawatan psikososial: ansietas dan depresi, pada Pelatihan Consultant Liaison Mental Health Nursing di RSHS, 23 Februari 2012, Bandung
76.    Pembicara, Asuhan keperawatan jiwa intensif, pada Pelatihan Psikiatri Intensif Care, di RSJ Propinsi JABAR, 7 Maret 2012, Bandung
77.    Pembicara, Kebutuhan konsep diri, pada Kuliah Pakar di PSIK-FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
78.    Pembicara, Peran perawat dalam mewujudkan masyarakat sehat jiwa, pada Seminar Nasional Keperawatan, PPNI Bulukumba, 21 April 2012, Bulu Kumba Sulawesi Selatan
79.    Pembicara, Asuhan keperawatan kedaruratan psikiatri, pada Pelatihan Kedaruratan Psikiatri di RS Jiwa Atma Husada Mahakam, 31 Mei 2012, Samarinda
80.    Pembicara, Manajemen pelayanan dan asuhan keperawatan, pada Pelatihan Keperawatan, YPMK Perdhaki, 14 Juni 2012, Jakarta
81.    Pembicara, Aspek psikososial klien dengan masalah respirasi, pada Pelatihan Keperawatan Respirasi di RS Persahabatan, 27 Juni 2012, Jakarta
82.    Pembicara, Asuhan keperawatan psikososial pada klien hepatitis, Seminar sehari di RS UKI, 17 Juli 2012, Jakarta
83.    Pembicara, Latihan motivasi: Menjadi perawat professional yang andal dan profesional, pada program Profesi FIK UI, 8 Agustus 2012, FIK UI, Depok
84.    Pembicara, Kontribusi Perawat Jiwa terhadap Aspek Psikososial Klien dengan Penyakit Kronis, pada Temu Ilmiah ke IV, 7 September 2012, FIK UI, Depok.
85.    Pembicara, Aspek psikososial pada luka bakar, pada Basic Burn Life Support Course, 14 September 2012, Jakarta
86.    Pembicara, Konsep keperawatan kesehatan masyrakat, pada Pelatihan Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat, 25 September 2012, Pusat Pendidikan dan Pelatihan, PPSDM, Kementerian Kesehatan, Bogor 
87.    Pembicara pada National Grand Research Proposal Writing Workshop, 10 Oktober 2012, FIK UI, Depok
88.    Pembicara, Motivasi perawat, pada Pelatihan Manajemen Penyelia bagi Perawat RSAB Harapan Kita, 8 Nopember 2012, Jakarta
89.    Pembicara, Pelayanan komprehensif keperawatan jiwa: masalah kesehatan jiwa tenaga kerja Indonesia, pada KONAS IX Keperawatan Jiwa, 22-24 Nopember 2012, Senggigi, Lombok
90.    Pembicara, Manajemen stres bagi tenaga kerja Indonesia, pada KONAS IX Keperawatan Jiwa, 22-24 Nopember 2012, Senggigi, Lombok

H. Temu Ilmiah Internasional
1981      : Participant, Comparative study of nursing in WOODBRIDGE Hospital,
                 Singapore
1991      : Participant, Clinical Teaching Training, NSW University, Sydney, Australia
1991      : Participant, Nursing Research Meeting, Chiang Mai, Thailand
1994      : Participant, Primary Health Conference, London, England
1996      : Participant, The 22nd Senior Nurses International Workshop, Tokyo-Osaka, Japan
2005      : Speaker, 4th International Mental Health Development Conference : Mental      Health in Aceh, Melbourne, 5 December 2005 Melbourne
2006      : Speaker, Inter Country Meeting on Development Mental Health Service in WHO SEA. 11   – 14 December 2006, Bangkok, Thailand
2007      : Participant, Comparative Study of Mental Health Services in Santosa
                Mental Hospital, Kucing , Malaysia, July 2007
2007      : Speaker, Global forum of community mental health, 1st meeting 30-31 May 2007, in Geneva, Switzerland
2007      : Speaker, 1st Borneo Mental Health Conference, 14-15 December 2007,   Kuching Malaysia
2008      : Speaker, First Global Forum on Human Resources for Health, 2-7 March 2008, Kampala, Uganda
2009      : Reviewer, WHO’s Mental Health Gap Action Programme, 23-27 Nov 2009, Rockefeller Foundation’s Bellagio Center – Stondrata Building, (Como) Italy
2009      : Participant of Reference Group, Global Forum on Human Resources for Health, WHO, Geneva, 16-17 Des 2009
2010      : Participant, Australian Leadership Award Training, Melbourne University, 8 Feb - 19 Mar 2010
2010      : Speaker, The 4th Indonesian Japan Joint Scientific Symposium, Denpasar, Bali, 29 Sep- 1 Oct 2010
2012      : Reviewer, "Meeting to Review the Module on Mental Health Promotion for Nurse-Midwives and Health Personal Working in Community", WHO SEARO, Bangkok Thailand, 15-16 November 2012

K. Pembimbing Tesis/Disertasi
1999 - 2012              :  Pembimbing Tesis Mahasiswa Master Keperawatan sebanyak 116 orang (telah lulus)
2010 - 2012              :  Pembimbing (promotor dan ko promotor) mahasiswa Doktor Keperawatan sebanyak 9  orang (dalam proses)

L.  Kontribusi dalam menyusun buku pedoman / panduan / modul di Direktorat Pelayanan Kesehatan  Jiwa, Kementerian Kesehatan RI, Prof Dr. Budi Anna Keliat dan Tim.
1.   Direktorat Keswa, Depkes RI . (1995). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja.
2.   Direktorat Keswa, Depkes RI . (1995). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut.
3.   Direktorat Keswa, Depkes RI . (1998). Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa.
4.   Direktorat Keswa, Depkes RI . (1998). Standar Asuhan Keperawatan Jiwa.
5.   Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Pemberdayaan Keluarga Klien Gangguan Jiwa.
6.    Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Pelayanan keperawatan Jiwa Profesional.
7.    Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Penanggulangan Dampak Psikososial Bencana.
8.    Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa untuk Tenaga Kesehatan  Puskesmas.
9.   Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Penanggulangan Pasung
10.    Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Modul Pelatihan Tenaga Kesehatan di
 Puskesmas
11.    Direktorat Pelayanan Keswa,KemKes RI. (2012). Pedoman Penanggulangan Bencana

M. Pengabdian Masyarakat
1.        Relawan pengungsian meletus Gunung Sinabung : 3-8 September 2010
2.        Relawan pengungsian meletus Gunung Merapi    :  30-31 Oktober 2010
3.        Relawan pengungsi meletus Gunung Lokon: 27 – 28 Juli 2011
4.        Relawan peduli banjir UI, 22-23 Januari 2013

N. Keanggotaan dalam Organisasi Profesi
1.        Anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia/PPNI (1974 – sekarang)
2.        Anggota Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia/IPKJI (1975 – sekarang)
3.        Dewan Pakar Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia/IPKJI (2001 – sekarang)

O. Penghargaan
1.        Satyalencana Karya satya XX, 1999
2.        Satyalencana Karya satya XXX, 2006
3.        Citra Executive Indonesia 2000
4.        Perempuan berprestasi pada Hari Pesempuan Sedunia, 8 Maret 2013 oleh Citi Corporation Indonesia

9. KONTRIBUSI KEPERAWATAN JIWA DALAM MENINGKATKAN     PELAYANAN KESEHATAN JIWA  DI INDONESIA MELALUI PELATIHAN PERAWAT

1.   Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa (MPKP Jiwa)
2.   Psychiatric Intensive Care Unit
3.   Basic Course Community Mental Health Nursing
4.   Intermediate Course Community Mental Health Nursing
5.   Advance Course Community Mental Health Nursing
6.   Tenaga Kesehatan di Puskesmas
No
Nama Provinsi
MPKP
PICU
BC CMHN
IC CMHN
AC CMHN
Pelatihan Nakes
1
ACEH
Belum
2
SUMUT
Belum
Belum
Belum
Belum
3
SUMBAR
Belum
Belum
Belum
4
SUMSEL
Belum
Belum
Belum
5
RIAU
Belum
Belum
Belum
6
BENGKULU
Belum
Belum
Belum
Belum
7
JAMBI
Belum
Belum
Belum
Belum
Belum
8
LAMPUNG
Belum
Belum
Belum
9
BABEL
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
Belum
10
KEPRI
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
Belum
11
BANTEN
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
Belum
12
DKI JAKARTA
Belum

a. Sudinkes Jakarta Barat
Belum

b. Sudinkes Jakarta Utara
Belum

c. Sudinkes Jakarta Timur
Belum

d. Sudinkes Jakarta Selatan
Belum

e. Sudinkes Jakarta Pusat
Belum

f. Kepulauan Seribu
Belum
13
JABAR
Belum
14
JATENG
Belum
15
DIY
Belum
Belum
16
JATIM
Belum
17
BALI
Belum
Belum
Belum
Belum
18
NTB
Belum
Belum
Belum
19
NTT
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
20
KALBAR
Belum
Belum
Belum
21
KALSEL
Belum
Belum
Belum
22
KALTENG
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
23
KALTIM
Belum
Belum
Belum
24
SULSEL
Belum
Belum
Belum
25
SULBAR
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
Belum
26
SULTENG
Belum
Belum
Belum
27
SULTRA
Belum
Belum
Belum
Belum
28
GORONTALO
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
29
SULUT
Belum
Belum
Belum
Belum
30
MALUKU
Belum
Belum
Belum
Belum
31
MALUKU UTARA
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
Belum
32
PAPUA BARAT
No RSJ
No RSJ
Belum
Belum
Belum
33
PAPUA
Belum
Belum
Belum
Belum
Belum
Belum

10.   TEMA KONFERENSI NASIONAL KEPERAWATAN JIWA
KONAS
TEMPAT
TEMA
TAHUN
I
Bogor
Reformasi pelayanan keperawatan di rumah sakit jiwa: Model praktik keperawatan profesional
2004
II
Yogyakarta
Peran perawat dalam upaya peningkatan kesehatan jiwa masyarakat melalui keperawatan jiwa masyarakat
2005
III
Semarang
Perawatan Psikogeriatri dan Praktek Mandiri Keperawatan Jiwa
2006
IV
Bandung
Strengthening Mental Health Awareness: Enhancing Patnership with Community and Organization
2007
V

Surabaya

Mental Health Character Building: Intensive Psychiatric Nursing Development and Patnership with Communities
2008

VI

Bali

Menuju Masyarakat Sehat mandiri melalui Keperawatan Jiwa Profesional dalam Pelayanan Kes
ehatan Tingkat Primer
2009

VII

Banda Aceh

Inovasi Pelayanan Kesehatan Jiwa melalui Lintas Program dan Lintas Sektoral Secara Komprehensif dan Terpadu
2010

VIII
Bukit Tinggi
Kesehatan Jiwa Pasca Bencana
2011
VIII
Mataram
Kesehatan Jiwa TKI di Luar Negeri
2012
IX
Samarinda
2013


No comments: