Skip to main content

Peranan perawat jiwa di RS umum belum berkembang

http://nasional.sindonews.com/read/2013/03/27/15/731677/peranan-perawat-jiwa-di-rs-umum-belum-berkembang

Sindonews.com - Kontribusi keperawatan jiwa pada pasien sakit fisik yang dirawat di rumah sakit umum belum berkembang dengan baik. Faktanya, ditemukan pasien dengan penyakit fisik mengalami ansietas dan depresi.

Penelitian yang dilakukan Siege dan Giese Davis tahun 20003 diketahui pasien kanker yang mengalami depresi ringan sedang (33 persen), depresi berat (25 persen). Sedangkan tahun 2007 yang dilakukan Wilson, diketahui ansietas dan depresi (13,9 persen) dan ansietas mengalami depresi (20,7 persen). Sedangkan, penelitian di Indonesia, ditemukan 98,1 persen pasien kanker mengalami depresi.

"Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan keperawatan jiwa di rumah sakit umum untuk pasien dengan masalah fisik karena depresi dapat berdampak pada kualitas hidup," kata Budi Anna Keliat dalam pidato upacara pengukuhan guru besar tetap dalam bidang keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) di Balai Sidang UI, Depok, Rabu (27/03/2013).

Salah satu alasan masuknya keperawatan kesehatan jiwa pada arus utama pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit umum karena meningkatnya masalah kesehatan jiwa pada pasien dengan sakit fisik. Pasien memerlukan perawatan pada respons pasien secara emosi, spiritual, perilaku dan kognitif terhadap masalah fisik yang dialaminya.

Psychiatric and mental liaison nurse adalah perawat yang memberikan konsultasi kesehatan jiwa pada pasien sakit fisik. Dengan melakukan asesmen dan tindakan baik kepada pasien maupun kepada keluarga.

Perawat memberikan asuhan keperawatan secara holisitik. Artinya, bukan hanya kepada diagnosis fisik saja, tetapi juga diagnosis psikososial pada masalah kesehatan jiwa pasien.

"Asuhan keperawatan difokuskan pada masalah biologis, pikiran, emosi, psikologis, spiritual, sosial dan lingkungan pasien," tukasnya.

Asuhan keperawatan yang diberikan dengan pendekatan consultation liaison mental health nursing yang berfokus pada diagnosis keperawatan yang berkaitan dengan diagnosa medis.

"Standar asuhan keperawatan generalis dan terapi modalitas keperawatan jiwa telah dikembangkan untuk menyelesaikan diagnosis keperawatan yang sering ditemukan," ujarnya.

Kontribusi keperawatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit umum telah memberikan perbaikan kondisi kesehatan pasien dan keluarganya. "Hal ini perlu terus dilaksanakan agar perawat terasa bermakna bagi pasien, keluarga dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan," tutupnya.


(kri)

Comments

Popular posts from this blog

TEKNIK DAN STRATEGI PENANGGULANGAN DAMPAK PSIKOSOSIAL PADA BENCANA

Oleh: Prof. Dr. Budi Anna Keliat, MAppSc (Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia)
BENCANA

Bencana adalah kejadian yang menyebabkan kerusakan fungsi masyarakat yang meliputi hilangnya nyawa manusia, kerusakan sarana dan prasarana, terganggunya perekonomian masyarakat, gangguan ekologi kehidupan, dan segala dampaknya yang menyebabkan masyarakat yang terkena tidak sanggup mengatasinya sendiri.
Bencana dapat dibagi tiga yaitu bencana alam, bencana non alam, bencana sosial. Bencana alam berupa peristiwa alam yaitu gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, kekeringan, angin topan, tanah longsor, dan berbagai kejadian alam yang lain. Bencana non alam adalah peristiwa non alam seperti kegagalan teknologi, wabah penyakit, dan kejadian non alam lain. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti konflik sosial dan terror.
Khusus bencana alam merupakan ancaman bagi masyarakat Indonesia dikarenakan geografis kepulauan dan diliputi oleh gunung berapi. Seperti…

Kesehatan Jiwa dan Puskesmas

Budi Anna Keliat ; Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia; Team Leader Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat (Community Mental Health Nursing)

(dimuat di KOMPAS, 10 Oktober 2013
)


MASALAH kesehatan jiwa di Indonesia sangat besar. Diperkirakan ada 1 juta kasus gangguan jiwa berat. Dari jumlah itu, sekitar 18.000 kasus ”ditangani” dengan dipasung.

Terkait dengan hal itu, pemerintah—khususnya Kementerian Kesehatan—telah mencanangkan Program Indonesia Bebas Pasung dengan berusaha menemukan pasien yang dipasung di masyarakat. Namun, penemuan pasien pasung hanya fokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif, belum menyelesaikan masalah kesehatan jiwa.