April 3, 2013

0,46 Persen Penduduk Indonesia Mengalami Gangguan Jiwa

http://www.depokterkini.co/index.php/kabar-kota/berita-kota/kesehatan/1326-0-46-persen-penduduk-indonesia-mengalami-gangguan-jiwa

Beji | Depok Terkini
Sumbangangan keperawatan jiwa pada pasien sakit fisik yang dirawat di rumah sakit umum ternyata belum berjalan dengan baik. Masih ditemukan pasien dengan penyakit fisik mengalami ansietas dan depresi. Penelitian tahun 2007 mencatat, 0,46 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Dan Jakarta menduduki posisi pertama dengan angka 2 persen untuk penderita gangguan jiwa berat. Kedua adalah Jawa Barat yang mencapai 22 persen dengan gangguan jiwa ringan. "Adan pun faktor penyebabnya banyak. Bisa masalah biologis, sosial, dan psikologis. Dengan adanya perawat kejiwaan di satu puskesmas dapat mengurangi jumlah penderita gangguan jiwa," terang Budi Anna Keliat usai pengukuhan Guru Besar Tetap bidang Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FKM UI), Rabu (27/3).
Menurut Budi Anna, penderita gangguan jiwa sesungguhnya dapat disembuhkan melalui cara penanganan dan pencegahan gejala awalnya. Mulai dari tingkat stres hingga gangguan jiwa akut. Untuk itu, tutur Anna, perawatan kesehatan sangat perlu dilakukan. "Perawatan itu dilakukan dari dalam kandungan. Ibu hamil perlu dididik bagaimana cara memperlakukan janin hingga melahirkan anak yang sehat. Ini pencegahan yang perlu dilakukan," kata dia.

Dia mengasumsikan, jumlah penderita gangguan jiwa se-Indonesia mencapai 1 juta orang. Namun, ruang perawatan yang tersedia hanya 90 ribu tempat. "Masih ada masyarakat yang tidak terlayani. Mereka ini yang tersebar di masyarakat, biasanya di kampung-kampung. Bahkan ada diantara mereka yang dipasung. Ini melanggar HAM," kata dia.

Budi Anna mengatakan, kontribusi keperawatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit umum telah memberi dampak perbaikan kondisi kesehatan pasien dan keluarganya. Makanya, kegiatan itu perlu terus dilakukan agar perawat terasa bermakna bagi pasien. Keperawatan jiwa di rumah sakit umum untuk pasien dengan masalah fisik karena depresi dapat berdampak pada kualitas hidup. "Sayangnya kesehatan jiwa belum menjadi program pemerintah," ujarnya.

Padahal, gejala sosial yang terjadi saat ini erat kaitannya dengan gangguan jiwa yang diderita. Kendati hanya gangguan jiwa ringan namun dapat memicu pada gangguan jiwa berat. "Sangat erat kaitannya. Jadi jangan remehkan masalah ini," kata Anna.

Saah satu alasan masuknya keperawatan kesehatan jiwa pada arus utama pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit umum karena meningkatnya masalah kesehatan jiwa pada psoen dengan sakit fisik. Pasien memerlukan perawatan pada respons pasien secara emosi, spiritual, perilaku dan kognitif terhadap masalah fisik yang dialaminya. Psychiatric and mental liasison nurse adalah perawat yang memberikan konsultasi kesehatan jiwa pada pasien sakit fisik. Dengan melakukan asesmen dan tindakan baik kepada pasien maupun kepada keluarga. Perawat memberikan asuhan keperawatan secara holisitik. Artinya, bukan hanya kepada diagnosis fisik saja, tetapi juga diagnosis psikososial pada masalah kesehatan jiwa pasien. "Asuhan keperawatan difokuskan pada masalah biologis, pikiran, emosi, psikologis, spiritual, sosial dan lingkungan pasien," tukasnya.

No comments: